Analis: Prospek Saham COIN masih Positif Jangka Menengah, Meski Kompetisi Industri Ketat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) masih memiliki potensi penguatan dalam jangka menengah, meski volatilitas dan tekanan harga membayangi saham ini dalam sebulan terakhir.
Berdasarkan data perdagangan saham Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (19/1/2026), saham COIN kembali ditutup jatuh 4,53% menjadi Rp 2.950. Dengan penurunan tersebut, saham emiten bursa aset kripto ini telah jatuh lebih dari 25% dalam sebulan terakhir.
Praktisi investasi dan trading Desmond Wira menilai bahwa COIN sebagai perusahaan holding bursa aset kripto melalui anak usaha seperti PT Central Finansial X (CFX) dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC) masih memiliki prospek menjanjikan untuk jangka menengah.
Baca Juga
COIN Laporkan Realisasi Dana IPO Saham, Seluruhnya Dialokasikan untuk Modal Kerja
Optimisme tersebut didukung masuknya investor strategis Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo melalui PT Arsari Nusa Investama sejak Desember 2025.
“Masuknya investor strategis memberikan suntikan kepercayaan dan potensi ekspansi di sektor aset digital,” ujar Desmond saat dihubungi, Senin (19/1/2026).
Namun demikian, Desmond menilai, prospek saham COIN dibayangi kompetisi yang semakin ketat, terutama dengan hadirnya International Crypto Exchange (ICEx) sebagai bursa kripto kedua di Indonesia yang didukung OJK dan terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam. ICEx bisa menekan margin, COIN karena bisnis yang saling tumpang tindih.
Baca Juga
IHSG Tembus Rekor Tertinggi, Dirut BEI: Terima Kasih Menkeu Purbaya
Terkait penurunan harga saham COIN dalam sebulan terakhir, dia mengatakan, dipicu sentimen global kripto yang kurang kondusif juga disebut menekan volume transaksi dan berdampak pada pendapatan perseroan.
Di sisi teknikal, saham COIN dinilai masih berada dalam tren penurunan sehingga risiko bagi investor dinilai cukup besar. “Risiko cukup besar bagi investor bila mau masuk saat ini. Disarankan wait and see,” ujar Desmond.
Sementara itu, COIN mencatatkan pertumbuhan kinerja yang signifikan. Perseroan membukukan EBITDA Rp 100,7 miliar dan laba bersih Rp 41,1 miliar pada kuartal III 2025 seiring peningkatan volume transaksi aset kripto dan derivatif.
Baca Juga
CFX: Industri Aset Kripto Tetap Tumbuh di 2026 Didukung Adopsi Korporasi
Menurut Desmond, saham COIN layak dipertimbangkan investor value dengan horizon panjang mengingat fundamental yang membaik dan pertumbuhan laba dari rugi Rp 1,99 miliar menjadi laba Rp 25,5 miliar pada semester I-2025.
Desmond menilai isu hukum yang menyeret influencer kripto Timothy Ronald tidak berpengaruh terhadap kinerja saham COIN. “Tidak ada hubungannya,” tegasnya.
Polda Metro Jaya sebelumnya mengonfirmasi laporan dugaan penipuan investasi aset kripto yang mencantumkan nama Timothy Ronald dan masih dalam tahap penyelidikan.
Dua Bursa
Pengamat kripto Christopher Tahir menyampaikan pandangan serupa. Menurutnya, prospek COIN masih cukup baik mengingat saat ini hanya terdapat dua bursa kripto di Indonesia. Namun Christopher menilai hadirnya ICEx akan menjadi penantang baru setelah sebelumnya COIN berada pada posisi hampir monopoli.
Ia menambahkan belum adanya langkah konkret dari COIN untuk menjawab keraguan pelaku pasar turut memberikan tekanan terhadap saham perseroan.
Baca Juga
CEO Triv Gabriel Rey: Kripto Bukan Jalan Pintas untuk Cepat Kaya
“Soal tuntutan terhadap Timothy Ronald, ini tidak ada pengaruh sama sekali terhadap ICEx,” tambahnya.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana (Didit) menilai pergerakan saham COIN masih berada dalam fase downtrend dan didominasi aksi jual. Indikator MACD tercatat masih berada di area negatif sementara Stochastic melandai di area oversold, mencerminkan terbatasnya potensi pembalikan arah dalam jangka pendek.
Meski demikian, Didit membuka peluang speculative buy dengan level support Rp 2.790 dan resistance Rp 3.250, serta target jangka pendek di kisaran Rp 3.340–Rp 3.490.

