Janu Putra (AYAM) Diprediksi Pulih, Begini Prospek Kinerja dan Target Sahamnya di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) diperkirakan memasuki fase pemulihan kinerja setelah melewati siklus terendah industri unggas sepanjang 2025. Penurunan biaya pakan, peningkatan utilisasi produksi, serta perbaikan harga ayam hidup dan DOC diproyeksikan menjadi motor utama rebound laba perseroan mulai 2026.
Hal ini mendorong Phillip Sekuritas dalam riset inisiasinya untuk merekomendasikan beli saham AYAM dengan target harga Rp 600 per saham. Valuasi tersebut berbasis DCF dengan asumsi WACC 7,9%.
Momentum pemulihan laba optimitis terealisasi, seiring normalisasi harga unggas, penurunan biaya pakan, dan ekspansi aset biologis yang mendorong leverage operasional mulai 2026.
Baca Juga
Analis Phillip Sekuritas Marvin Lievincent mengatakan, AYAM diprediksi mampu untuk membalikkan pendapatan menjadi naik signifikan dari proyeksi tahun 2025 senilai Rp 367 miliar menjadi Rp 476 miliar pada 2030, didorong permintaan unggas domestik dan efisiensi operasional.
“Industri unggas Indonesia pada 2025 menunjukkan tren pemulihan, ditopang konsumsi protein yang tetap solid dan stabilisasi fundamental pasca volatilitas periode 2022–2023. Apalagi konsumsi unggas nasional masih relatif rendah di kisaran 8–9 kg per kapita, sehingga ruang pertumbuhan struktural jangka panjang tetap besar,” tulis riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Selain itu, dia mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan perseroan didukung terkendalinya inflasi serta pertambahan jumlah konsumen nasional. Kondisi supply–demand broiler dan DOC juga telah kembali seimbang, meredam volatilitas harga berlebih dan menciptakan lanskap usaha yang lebih kondusif bagi emiten seperti AYAM.
Baca Juga
Pasokan Susu dan Ayam untuk MBG 2026 Diperluas, Pemerintah Kejar Produksi Dalam Negeri
Dari sisi biaya, Phillip Sekuritas menyebutkan, profitabilitas sektor perlahan membaik seiring tren penurunan bahan baku pakan seperti jagung dan kedelai secara tahunan. Program pemerintah yang memperkuat pasokan jagung domestik dan menstabilkan harga input pertanian turut meredam fluktuasi biaya pakan, komponen terbesar biaya produksi unggas.
Perusahaan Sekuritas ini menyebutkan bahwa harga live bird dan DOC menunjukkan tren kenaikan pada akhir 2025, ditopang permintaan yang lebih kuat serta manajemen suplai yang lebih disiplin. Harga unggas juga tercatat berada di atas harga acuan pemerintah, membuka ruang pemulihan margin tanpa menekan daya beli.
“Perbaikan ini diperkuat efisiensi produksi dan feed conversion yang lebih baik, memberikan leverage positif terhadap kinerja AYAM, seiring peningkatan volume,” tulisnya.
Baca Juga
IHSG Bisa Lanjutkan Rebound Hari Ini, Tiga Saham Dipimpin RAJA Layak Dilirik
Perseroan, terang Phillip Sekuritas, juga didukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memperkuat dasar permintaan daging dan telur. Selain itu, rencana investasi Danantara senilai Rp 20 triliun di sektor peternakan serta penyaluran pembiayaan murah KUR sebesar Rp 50 triliun diperkirakan memperbaiki kapasitas hulu–hilir dan mengurangi siklus industri.
“Kebijakan food estate turut memperkuat prospek pertumbuhan lebih berkelanjutan bagi pelaku industri unggas, termasuk AYAM,” terangnya.

