HSBC Optimistis IHSG Bisa Tembus 9.700 di Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank HSBC Indonesia melalui HSBC Global Research menilai pasar saham Indonesia menyimpan potensi kenaikan yang signifikan. HSBC memproyeksikan indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang menembus level 9.700 pada tahun ini, dari posisi saat ini di kisaran 8.600.
“Kami tetap optimis terhadap pasar saham global, khususnya pasar saham negara berkembang,” ujar Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde, dalam Online Media Briefing HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Ada tiga faktor utama yang mendorong pandangan ini. Antara lain penurunan suku bunga, dukungan stimulus fiskal di berbagai negara, serta peluang kejutan positif dari sisi kinerja laba perusahaan.
Herald menjelaskan, meski ruang penurunan suku bunga global tak terlalu besar, kebijakan fiskal di Amerika Serikat (AS), Eropa, Jepang, hingga China masih cukup ekspansif. Selain itu, insentif pajak di Amerika Serikat (AS) untuk mendorong investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) turut memicu lonjakan belanja modal.
Dari sisi kinerja perusahaan, ia menilai ekspektasi laba, terutama di AS, saat ini relatif lemah. Kondisi tersebut justru membuka peluang terjadinya kejutan positif saat musim laporan keuangan.
Baca Juga
Dalam konteks regional, ia menilai pasar saham negara berkembang menawarkan valuasi yang lebih menarik dibandingkan AS. Selain itu, negara berkembang juga berpotensi diuntungkan oleh pelemahan dolar AS serta rantai pertumbuhan AI yang banyak digerakkan dari Asia.
Khusus Indonesia, HSBC menilai posisi pasar saat ini sangat menarik. Eksposur portofolio investor asing terhadap saham Indonesia masih relatif rendah, sementara valuasi berada di level yang sangat murah secara historis.
“Banyak bank dan perusahaan konsumer yang memiliki eksposur terhadap pasar ini, harganya sangat murah. Bahkan, hampir serendah mungkin, seperti yang terjadi selama 15 atau 20 tahun terakhir,” kata Herald.
“Oleh karena itu, Indonesia menawarkan pemulihan dalam siklus pertumbuhan dan pendapatan, valuasi rendah di saat orang mencari eksposur pasar negara berkembang yang lebih baik,” sambungnya.
Dengan kombinasi tersebut dan prospek pemulihan ekonomi, HSBC memandang Indonesia sebagai salah satu pasar unggulan di pasar negara berkembang pada tahun ini.
“Kami menyukai Indonesia, kami melihat target indeks 9.700, naik dari level saat ini sekitar 8.600 atau semacamnya. Jadi ada prospek bagus, kami percaya ada potensi kenaikan yang baik di pasar saham Indonesia,” ucap Herald.
Meski begitu, ia mengingatkan sejumlah risiko yang tetap perlu dicermati, antara lain volatilitas nilai tukar dan dinamika aliran dana global. Namun, Herald menyatakan bahwa selama tren pemulihan laba berlanjut, prospek pasar saham Indonesia tetap positif.

