IHSG Awali Perdagangan Perdana 2026 dengan Ceria, Naik ke Level 8.670
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 23,26 poin atau 0,27% ke level 8.670,20 pada pembukaan perdana perdagangan tahun 2026, Jumat (2/1/2026). Penguatan IHSG menandai awal tahun yang positif seiring dominasi saham-saham yang bergerak di zona hijau.
Merujuk data perdagangan BEI, pada awal pembukaan volume transaksi tercatat mencapai 1,97 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,05 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 157.768 kali transaksi. Sebanyak 317 saham tercatat menguat, sementara 196 saham melemah dan 179 saham bergerak stagnan.
Pergerakan pasar didominasi oleh penguatan sejumlah besar sektor, teknologi 0,11%, energi 1,5%, infrastruktur 1,08%, industri 0,02%, konsumer primer 1,01%, properti 0,3%, konsumer non primer 0,41%, transportasi 1,36%, dan barang baku 1,25%. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penurunan.
Dari jajaran top gainers, saham PT Arkora Hydro Tbk (ARKO) mengalami lonjakan 1.025 poin atau 17,23% ke level Rp 6.975. Disusul PT Triniti Dinamik Tbk (TRUE) yang menguat 34 poin atau 16,19% ke harga Rp 244, serta PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk (NELY) yang naik 64 poin atau 15,76% ke posisi Rp 470 per saham.
Sebaliknya, tekanan jual terlihat pada sejumlah saham yang masuk daftar top losers. Saham PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE) terkoreksi 240 poin atau 7,27% ke level Rp 3.060. PT Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP) melemah 40 poin atau 7,02% ke harga Rp Rp 530, diikuti PT Chitose International Tbk (CINT) terkoreksi 16 poin atau 6,56% ke posisi Rp 228 per saham.
Baca Juga
IHSG Berpotensi 10.000 pada Akhir 2026, Ini Hitungannya Versi Purbaya
Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa BEI telah menyiapkan arah pengembangan bursa teknologi Indonesia untuk lima tahun ke depan agar momentum pertumbuhan pasar modal tetap terjaga.
“BEI 2026-2030, kami menetapkan tujuan besar pada tahun 2030, yaitu membangun pasar modal Indonesia yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global. Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran top 10 bursa dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” kata Iman dalam pembukaan perdagangan 2026 di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2025).
Dalam kerangka tersebut, BEI juga menetapkan sejumlah asumsi berdasarkan kondisi makroekonomi nasional dan global, termasuk asumsi rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) pada tahun 2026 sebesar Rp15 triliun. Dari sisi pencatatan, BEI menargetkan 555 pencatatan efek sepanjang 2026, yang di antaranya mencakup 50 saham baru.
Baca Juga
Rekor IHSG 2025, Peran Investor Domestik, dan Kontribusi 'Conglo Stock'
Selain itu, BEI akan terus memanfaatkan berbagai kanal distribusi informasi untuk mendorong pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia dengan target penambahan sebanyak 2 juta investor baru pada tahun 2026.
“Kami percaya agar terwujud visi ini dibutuhkan sinergi seluruh stakeholder, untuk itu kami sangat mengharapkan dukungan dan kolaborasi dari emiten, anggota bursa, dan seluruh pemangku kepentingan agar masterplan BEI 2026-2030 dapat terlaksana dengan baik dan memberikan manfaat yang nyata bagi pasar modal Indonesia,” ujarnya.
Pembukaan perdagangan saham tahun 2026 tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, serta Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun.

