Regulasi Membaik, Harga Bitcoin Justru Tertinggal dari Pasar Saham
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri kripto berhasil melewati tahun ini tanpa mengalami keruntuhan sistemik maupun skandal besar. Namun demikian, kinerja pasar kripto justru mencatatkan salah satu periode terburuk dalam sejarahnya, ditandai dengan penurunan harga aset utama dan melemahnya minat investor.
Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$126.000 pada Oktober, atau naik lebih dari 30% sejak awal tahun. Namun, tekanan pasar yang berkelanjutan menghapus seluruh kenaikan tersebut. Hingga akhir tahun, harga bitcoin tercatat turun sekitar 7% secara tahunan, jauh tertinggal dibandingkan indeks saham S&P 500 yang menguat sekitar 15% sepanjang tahun.
Penurunan ini terjadi di tengah kondisi yang relatif kondusif bagi industri kripto. Tekanan regulasi di Amerika Serikat telah mereda, digantikan oleh pemerintahan yang secara terbuka pro-kripto. Kongres AS juga mendorong sejumlah regulasi yang sejalan dengan kepentingan industri, sementara adopsi institusional meningkat signifikan melalui peluncuran dan arus dana miliaran dolar ke exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin.
Meski demikian, pasar kripto belum mampu menemukan momentum pemulihan yang berkelanjutan. Setelah bergerak stabil di kisaran US$ 90.000, Bitcoin kembali mengalami aksi jual dan sempat turun ke sekitar US$ 85.000-an pada pertengahan pekan ini.
Baca Juga
OJK: Pedagang Aset Kripto Ilegal Bisa Kena Denda Rp 1 Triliun hingga Dipenjara 10 Tahun
Sejumlah analis menilai tekanan tersebut dipicu faktor teknis, termasuk likuidasi posisi leverage yang besar setelah terjadinya flash crash pada awal Oktober. Namun, pelemahan yang berkepanjangan mengindikasikan adanya persoalan struktural yang lebih luas di pasar kripto.
Di sisi lain, selera risiko investor global dinilai masih kuat, tercermin dari kinerja indeks Nasdaq yang berbasis saham teknologi yang justru mengungguli pasar secara keseluruhan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengapa investor cenderung menghindari aset kripto.
Pengamat menilai, reputasi industri kripto yang masih dibayangi berbagai praktik penipuan dan kejahatan siber menjadi salah satu faktor utama. Sepanjang tahun ini, penipuan melalui ATM kripto dilaporkan telah merugikan warga Amerika Serikat lebih dari US$ 330 juta. Selain itu, perusahaan analitik blockchain Chainalysis mencatat lebih dari 30 kasus penculikan atau pemerasan terhadap investor kripto sepanjang tahun, meski banyak di antaranya tidak dilaporkan secara resmi.
Baca Juga
Transaksi Kripto di Indonesia Turun 24,5%, Begini Strategi Tokocrypto Genjot Likuiditas
Ekonom Universitas Cornell, Eswar Prasad, menyebut investor ritel berada dalam posisi dilematis antara potensi keuntungan dan risiko reputasi industri kripto. “Investor ritel berada di antara rasa takut kehilangan peluang dan kekhawatiran terhadap sisi gelap kripto dan para promotornya. Kondisi ini memperkuat volatilitas harga ke dua arah,” ujar Prasad dilansir dari CNN International, Sabtu (20/12/2025).
Ia menambahkan, reli bitcoin pasca-terpilihnya kembali Presiden Donald Trump sempat menarik investor baru yang berorientasi pada keuntungan jangka pendek. Namun, ketika harga mulai terkoreksi, tidak banyak faktor non-finansial yang mampu menahan investor untuk tetap bertahan di pasar kripto.
“Meskipun mereka tertarik mencoba, investor juga siap keluar ketika situasi memburuk. Kekhawatiran mendasar terhadap kripto kini kembali muncul,” kata Prasad.

