Transaksi Kripto di Indonesia Turun 24,5%, Begini Strategi Tokocrypto Genjot Likuiditas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Aktivitas transaksi aset kripto di Indonesia mengalami penurunan menjelang akhir tahun. Untuk mendorong likuiditas dan aktivitas transaksi, Tokocrypto menghadirkan kanal deposit baru melalui Bank Central Asia (BCA).
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai transaksi aset kripto pada November 2025 mencapai Rp 37,20 triliun, turun 24,53% dibanding Oktober 2025 sebesar Rp 49,29 triliun.
Total nilai transaksi aset kripto secara kumulatif Januari-November 2025 2025 (year to date/ytd) mencapai Rp 446,77 triliun, menurun 19,72% dibanding periode yang sama 2024 yaitu Rp 556,53 triliun.
CEO Tokocrypto Calvin Kizana mengungkapkan, penurunan transaksi sejalan dengan pergerakan harga Bitcoin yang diperkirakan mencatatkan bulan terburuk sepanjang 2025.
“Tekanan pasar global semakin besar setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperluas kebijakan tarif terhadap China pada 10 Oktober 2025, yang memicu penilaian ulang risiko di pasar global,” ujarnya, dalam keterangan pers, Kamis (18/12/2025).
Baca Juga
Suku Bunga Jepang Naik ke Level Tertinggi 3 Dekade, Bitcoin Naik ke US$ 87.000-an
Calvin menyatakan, koreksi pasar yang terjadi merupakan bagian dari siklus industri kripto yang perlu disikapi secara bijak.
“Kami melihat pasar kripto global memang sedang berada dalam fase koreksi yang berdampak pada psikologi investor, termasuk di Indonesia yang cenderung bersikap wait and see menjelang akhir tahun. Namun, minat terhadap aset kripo tetap kuat,” katanya.
Sebagai upaya untuk mendongkrak likuiditas dan aktivitas transaksi kripto di Indonesia, Tokocrypto menghadirkan kanal deposit baru melalui Bank Central Asia (BCA).
Menurut Calvin, dengan metode ini, proses deposit rupiah menjadi lebih mudah, cepat, dan nyaman tanpa biaya tambahan. Sehingga pengguna dapat memilih metode transaksi yang sesuai dengan kebutuhan.
“Kami percaya kemudahan akses menjadi kunci untuk menjaga likuiditas dan mendorong aktivitas transaksi, terutama di periode akhir tahun ketika volume perdagangan biasanya melambat,” ucapnya.
Baca Juga
Adopsi Bitcoin Meroket, Bhutan Alokasikan US$ 1 Miliar untuk Kembangkan Kota Ekonomi
Terlepas dari itu, Calvin menilai periode akhir tahun tetap menyimpan peluang di pasar kripto. Secara historis, Bitcoin kerap menunjukkan pola musiman yang dikenal sebagai santa claus rally atau kecenderungan penguatan harga pada pekan menjelang hingga setelah natal.
“Momentum musiman seperti santa claus rally kerap memunculkan peluang, tapi tetap harus disikapi dengan disiplin dan manajemen risiko yang baik. Karena itu, kami menyiapkan ekosistem yang makin memudahkan pengguna untuk merespon pergerakan pasar secara cepat dan efisien,” ujarnya.

