Sentimen The Fed Redup, Analis Optimistis IHSG ke 9.000 dan Ini Saham-Saham Pilihannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan berpeluang melanjutkan penguatan, dengan kemungkinan untuk menembus level 9.000 pada akhir 2025 yang masih terbuka.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana mengatakan prospeknya masih ditopang oleh valuasi pasar Indonesia yang relatif lebih murah dibanding negara Asia lainnya, kondisi fundamental emiten big caps yang solid, serta potensi aliran dana kembali masuk begitu ketidakpastian kebijakan The Fed mereda.
Menurutnya, selama Bank Indonesia mampu menjaga stabilitas rupiah dan arah suku bunga domestik tetap konsisten, tren pemulihan IHSG diyakini akan berlanjut pada paruh kedua 2025.
“Ke depan, peluang IHSG untuk kembali menguat dan mengejar target 9.000 pada akhir 2025 tetap terbuka,” kata Hendra kepada investortrust.id Kamis, (11/12/2025).
Sebagaimana diketahui, IHSG pada perdagangan Kamis, (11/12/2025) ditutup berbalik anjlok sebanyak 80,44 poin (0,92%) menjadi 8.620. Hendra menilai IHSG kembali terkoreksi cukup dalam setelah The Fed mengirimkan sinyal hawkish untuk 2026.
Baca Juga
IHSG Berbalik Anjlok 0,92% Dipicu Profit Taking, Sebaliknya 7 Saham ARA Dipimpin CTTH
“Pemangkasan suku bunga acuan AS sebesar 25 bps ke level 3,5–3,75% sebenarnya sempat memicu euforia karena pasar berekspektasi akan ada pelonggaran lebih lanjut. Namun pernyataan Jerome Powell bahwa The Fed kemungkinan hanya akan memangkas suku bunga satu kali sepanjang 2026 langsung memicu sentimen risk-off di pasar global,” terang dia.
Dampaknya pun terasa cepat, kata Hendra, harga aset berisiko merosot, emas sempat menyentuh level resistance penting, dan IHSG yang baru saja membukukan rekor All Time High (ATH) di 8.740 harus terkoreksi lebih dari 1,35% ke 8.583.
“Koreksi tajam pada saham-saham konglomerat hari ini lebih mencerminkan penyesuaian risiko global, bukan tanda bahwa kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia memudar,” jelas dia.
Foreign outflow yang terjadi juga relatif ringan dan lebih terkait reposisi portofolio menjelang akhir tahun. Beberapa sektor seperti properti, teknologi, dan infrastruktur terkena tekanan lebih besar karena sensitif terhadap perubahan suku bunga, sementara sektor energi justru mencatatkan penguatan seiring stabilnya harga komoditas.
Sejumlah saham yang menarik dicermati menurut Hendra antara lain, SCMA dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 500, BUMI dengan target Rp 400, BRMS dengan rekomendasi speculative buy dan target Rp 1.035.

