Adopsi Mobil Listrik RI Melaju, Tapi Masih Didominasi Konsumen Menengah Atas
Poin Penting
| ● | Adopsi mobil listrik didominasi early adopter dan kelompok menengah atas urban. |
| ● | Pembelian dipacu penghematan biaya operasional dan insentif fiskal. |
| ● | ID COMM nilai kebijakan kendaraan listrik jadi katalis integrasi industri dari hulu ke hilir. |
JAKARTA, investortrust.id – Adopsi mobil listrik di Indonesia terus meningkat, namun masih didominasi kelompok berpendapatan menengah atas yang menjadi early adopter serta sebagian early majority.
Demikian hasil riset ID COMM, firma PR berbasis SDGs yang melakukan wawancara dengan konsumen, pelaku industri, media, serta analisis beragam regulasi kendaraan listrik nasional.
Riset tersebut mengungkap bahwa hambatan dan peluang adopsi mobil listrik, sekaligus menegaskan bahwa minat konsumen saat ini lebih banyak didorong motif ekonomi, seperti penghematan biaya operasional dan insentif fiskal. Sementara itu, pengguna mobil listrik mayoritas adalah masyarakat urban yang sudah memiliki mobil berbahan bakar fosil.
Baca Juga
Insentif Mobil Listrik CBU Tak Diperpanjang, Harga Bisa Naik 30-40%
“Transisi ini lebih menunjukkan pergeseran perilaku daripada perluasan pasar baru. Informasi ini penting untuk berbagai pihak terkait sektor otomotif,” ujar Co-Founder dan Director ID COMM, Asti Putri, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Pemerintah menargetkan sebanyak 2 juta unit mobil listrik pada 2030 sebagai bagian dari program transisi energi nasional. Tren pasar juga menunjukkan percepatan signifikan. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) melonjak dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024, dan mencapai 51.191 unit hanya dalam delapan bulan pertama 2025.
Sejak 2019, arah kebijakan kendaraan listrik berkembang melalui Perpres Nomor 55/2019 sebagai dasar percepatan ekosistem kendaraan listrik. Regulasi-regulasi terkait diarahkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan menekan emisi gas rumah kaca.
Baca Juga
BYD Kuasai 54% Pangsa Pasar Mobil Listrik Indonesia, Jadi Penggerak Utama Pertumbuhan EV Nasional
Tim riset ID COMM turut memetakan seluruh kebijakan dalam rantai pasok industri, mulai dari penambangan bahan baku hingga daur ulang komponen.
Sementara itu, Research Associate ID COMM Inu Machfud menegaskan bahwa keseluruhan kebijakan tersebut dirancang guna membangun sistem kendaraan listrik terpadu dari hulu hingga hilir, mencakup aspek fiskal, industri, infrastruktur, serta pengelolaan akhir masa pakai.
“Kebijakan menjadi simpul yang menghubungkan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tidak hanya sebagai alat pengatur, tetapi juga katalis yang mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menghadirkan solusi adaptif bagi kebutuhan sosial dan ekonomi,” jelas Inu.

