Indonesia Perlu Contoh India untuk Majukan Pasar Modal Lewat Infrastruktur dan Teknologi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia dinilai perlu untuk memperkuat infrastruktur teknologi untuk meningkatkan likuiditas, transparansi dan keamanan transaksi pasar modalnya. India disebut bisa menjadi contoh negara yang berhasil menciptakan ekosistem pasar modal yang maju.
Hal tersebut diungkapkan CEO Investortrust Primus Dorimulu dalam acara Investortrust Capital Market Forum 2025 di Jakarta, Kamis (4/12/2025). Primus menjelaskan dibandingkan dengan India yang memiliki lebih dari 8.000 perusahaan tercatat dan nilai transaksi harian mencapai US$ 11–15 miliar, Indonesia masih tertinggal jauh dengan rata-rata transaksi sekitar US$ 1 miliar per hari. Padahal kapitalisasi pasar Indonesia telah mencapai US$ 930 miliar. Hal ini menggambarkan bahwa ruang pertumbuhan yang sangat besar terbuka, jika infrastruktur, teknologi, dan reformasi pasar dipercepat.
Baca Juga
Respons Rosan soal Wacana Merger GOTO–Grab: Biarkan Proses Berjalan
Menurut Primus Indonesia bisa belajar dari India bagaimana teknologi mampu mengubah wajah pasar modal. Dengan adopsi digital onboarding 5 menit, biaya transaksi super rendah, interoperabilitas berbasis UPI, dan digitalisasi penuh pada trading hingga settlement, negara tersebut berhasil mendorong basis investor ritel hingga 150–180 juta orang atau lebih dari 12% populasi. Angka ini jauh di atas tingkat penetrasi Indonesia yang baru 3–3,5%.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa teknologi adalah pendorong terbesar inklusi pasar keuangan. India bahkan menjadi pemimpin global dalam efisiensi penyelesaian transaksi, telah mengembangkan T+1 sejak 2023 dan kini menguji T+0 untuk beberapa saham tertentu.
Dalam konteks Indonesia, Primus mengungkapkan kebutuhan terhadap lebih banyak emiten sektor teknologi menjadi sangat signifikan. Saat ini, kurang dari 10% emiten BEI yang tergolong likuid dan berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, BRPT, CDIA dan GOTO.
Baca Juga
GOTO Bersiap RUPSLB, Berikut Usulan Struktur Manajemen Terbaru
Dominasi sektor non-teknologi menunjukkan bahwa kedalaman pasar masih terbatas. GOTO atau PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk tampil sebagai contoh bagaimana perusahaan teknologi dapat berperan besar dalam mendorong likuiditas, memperluas basis investor, serta menarik minat institusi global.
Namun Indonesia membutuhkan lebih dari satu pemain besar untuk membangun ekosistem pasar modal yang modern dan kompetitif. Ditekankan bahwa transformasi ini hanya dapat terwujud melalui kolaborasi lintas institusi dari SRO yang inovatif, emiten berkualitas dengan tata kelola kuat, anggota bursa yang berkapasitas besar, hingga investor dengan literasi keuangan yang lebih baik.
Untuk itu, Primus mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meneladani keberhasilan India dan mengambil langkah konkret guna memperkuat masa depan pasar modal Indonesia.

