CEO Investortrust Ingatkan Indonesia Mesti Kejar Ketertinggalan Transformasi Digital Pasar Modal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – CEO Investortrust Primus Dorimulu mengingatkan bahwa Indonesia harus segera mengejar ketertinggalan dalam transformasi digital pasar modal agar mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan pasar global.
Primus menegaskan bahwa penguatan fondasi teknologi merupakan syarat mutlak untuk menjadikan pasar modal Indonesia lebih likuid, transparan, dan aman. “Kita berkumpul untuk membahas agenda besar, bagaimana Indonesia dapat memperkuat fondasi teknologi pasar modal di tengah perkembangan global yang begitu cepat,” ujar Primus dalam sambutannya di acara Investortrust Capital Market Forum 2025, di Hotel JW Marriott, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Primus menyoroti pesatnya transformasi pasar modal India yang kini menjelma sebagai salah satu bursa terbesar dan paling maju di dunia. Dia menyebut, kapitalisasi pasar India telah menembus US$ 5 triliun, atau sekitar 140% dari produk domestik bruto (PDB) negaranya, menjadikan India masuk dalam lima pasar modal terbesar dunia, melampaui Inggris dan mendekati Jepang.
Dia memaparkan, pertumbuhan kapitalisasi pasar India mencapai lebih 12% per tahun selama satu dekade terakhir. Laju ini ditopang kekuatan gabungan dua bursa besar, yaitu Bombay Stock Exchange (BSE) dan National Stock Exchange (NSE). “India kini memiliki lebih 8.000 perusahaan tercatat dan nilai transaksi harian BSE dan NSE mencapai US$ 11 miliar–US$ 15 miliar. Ini jauh di atas Indonesia yang rata-rata hanya sekitar US$ 1 miliar per hari,” kata Primus.
Baca Juga
Tambah Free Float Saham, OJK Minta DPR Bahas Insentif Pajak untuk Pasar Modal
Sementara itu, kapitalisasi pasar Indonesia masih berada di kisaran US$ 930 miliar, menunjukkan ruang besar untuk tumbuh jika reformasi dilakukan secara agresif.
Primus menekankan bahwa salah satu prestasi paling fenomenal India adalah ledakan jumlah investor ritel. Saat ini, terdapat 150 juta–180 juta investor ritel di India, yang mencapai lebih 12% populasi. Sedangkan Indonesia baru mencapai rentang 3–3,5% dari penduduk.
Percepatan tersebut, menurut Primus, dimungkinkan karena penerapan teknologi masif, seperti onboarding digital 5 menit, mobile trading berbiaya sangat rendah, biaya transaksi minimal, interoperabilitas nasional berbasis UPI, digitalisasi penuh perdagangan, kliring, dan penyelesaian. “India membuktikan bahwa teknologi adalah pendorong terbesar inklusi keuangan,” tegas Primus.
Saham GOTO
Menurut Primus, salah satu tantangan terbesar Indonesia adalah kedalaman pasar yang masih terbatas. Saat ini, kurang dari 10% emiten tercatat yang tergolong likuid dan berkapitalisasi besar, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Goto Gojek Tokopedia Tbk GOTO, dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI).
Dari 10 saham paling aktif sebulan terakhir, GOTO menjadi satu-satunya emiten teknologi. “Indonesia sangat membutuhkan lebih banyak pemimpin teknologi dengan market cap besar, likuiditas kuat, dan free-float signifikan,” kata Primus.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Naik Tipis Hari Ini, Tiga Saham Dipimpin GTSI Direkomendasikan Beli
Primus juga menegaskan pentingnya mendorong lebih banyak emiten dari sektor bernilai tambah tinggi, seperti teknologi, artificial intelligence (AI), data center, dan cloud services, yang secara global dikenal memiliki likuiditas sehat dan basis investor luas.
Primus menilai kolaborasi lintas lembaga mutlak diperlukan agar modernisasi pasar modal berjalan optimal. Dia menekankan perlunya self regulation organizations (SRO) yang lincah dan inovatif, emiten berkualitas tinggi dengan fundamental kuat dan tata kelola baik, anggota bursa yang kuat dari sisi permodalan dan SDM, serta basis investor yang beragam dengan literasi keuangan yang baik.
“Pasar modal yang matang menuntut sistem dan institusi yang berjalan mulus serta andal. Likuiditas investor global hanya akan datang jika fondasinya kuat,” ujarnya.

