Timah (TINS) Beberkan Penyebab Merosotnya Kinerja Kuartal III-2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Timah Tbk (TINS) mengungkap sejumlah faktor yang menyebabkan anjloknya kinerja pada kuartal III-2025. Kinerja tersebut dipicu atas penurunan sebanyak 20% menjadi produksi 12,19 juta ton Sn.
Hingga kuartal III-2025, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan menjadi Rp 6,60 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 8,25 triliun. Penurunan ini memicu pelemahan laba periode berjaln dari Rp 908,81 miliar menjadi Rp 602,41 miliar.
Wakil Direktur Utama Timah Harry Budi Sidharta menjelaskan bahwa tekanan produksi berlangsung hingga kuartal ketiga, sebelum mulai pulih pada Oktober 2025. Perseroan pun menargetkan capaian produksi kembali sesuai rencana hingga akhir tahun.
Baca Juga
Nur Adi Kuncoro Dicopot dari Posisi Direktur Operasi dan Produksi Timah (TINS)
Manajemen memaparkan beberapa tantangan utama, seperti maraknya aktivitas penambangan ilegal yang masih dalam proses penertiban. Di sisi lain, target produksi bijih dan logam timah turut meleset akibat batalnya pembukaan lokasi tambang baru. Operasional di Perairan Rias, Laut Beriga, dan Laut Oliver belum dapat direalisasikan tahun ini.
Sementar aitu, Direktur Keuangan Timah Fina Eliani mengungkapkan bahwa sebagian izin usaha pertambangan (IUP) perseroan jatuh tempo pada Juni 2025, sehingga proses perpanjangan yang terlambat ikut menghambat revisi RKAB dan volume produksi berjalan. Ia menegaskan, penambangan ilegal masih menjadi tantangan paling signifikan di wilayah IUP perusahaan.
Produksi logam timah juga turun 25% (yoy) menjadi 10.855 metrik ton, sementara penjualan logam timah hingga September 2025 merosot 30% (yoy) menjadi 9.469 metrik ton. Padahal, harga rata-rata timah global justru naik 8% (yoy) ke level US$ 33.596 per metrik ton.
Baca Juga
Kontribusi PT Timah (TINS) untuk Negara Melonjak 122% pada Kuartal III-2025
Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan TINS selama Januari–September 2025 mencapai Rp 6,6 triliun, turun sekitar 20% (yoy). Laba bersih tergerus lebih dalam, yakni 34% (yoy) ke Rp 602 miliar. Margin keuntungan penjualan timah sebenarnya berada di kisaran US$ 5.000 per metrik ton, namun hasil konsolidasi belum optimal akibat keterlambatan persetujuan ekspor.
Manajemen menargetkan penjualan dapat dioptimalkan pada kuartal IV-2025 dan memberikan capaian kinerja yang lebih baik di akhir tahun. Untuk prospek ke depan, perseroan masih menghadapi tantangan cuaca buruk hingga Februari 2026 yang dapat mengganggu aktivitas penambangan laut.

