AS Penuh Ketidakpastian Namun Investor Tetap 'Kerubungi' Bursa Saham AS, Allianz Ungkap Saham Buruan Investor
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Diversifikasi diperkirakan menjadi tema utama investor global pada 2025–2026, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dunia dan melemahnya sejumlah negara besar. President Director Allianz Global Investors Indonesia, Aliyahdin (Adi) Saugi, menyampaikan bahwa kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa arus dana asing ke pasar saham Indonesia belum kembali optimal, sementara instrumen fixed income justru menikmati aliran dana masuk yang kuat.
Menurut Adi, banyak investor bertanya mengapa dana global tidak mengalir ke Indonesia dan lebih memilih pasar lain. “Kita tahu bahwa memang Indonesia itu mengalami outflow ya. Ini kita ngomongin di equity, kalau fixed income keren banget,” ujarnya dalam CEO Networking 2025 di Hotel St Regis, Jakarta, Selasa (18/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa tekanan global terutama datang dari Amerika Serikat (AS), yang kini berada dalam kondisi ekonomi yang tidak lazim. Pertumbuhan ekonomi masih ada, tetapi inflasi relatif tinggi dan diperkirakan melemah ke depan. Di tengah situasi tersebut, Federal Reserve berupaya keras mendorong soft landing untuk menghindari risiko resesi. Ketidakpastian kebijakan juga memperburuk sentimen investor.
Di tingkat global, pelemahan ekonomi juga terjadi di Eurozone, Inggris, dan sebagian China, meski Allianz Global Investors masih optimistis bahwa China tetap akan tumbuh. Namun kekhawatiran terbesar investor justru muncul pada posisi dolar AS dan fondasi ekonomi Amerika itu sendiri.
“DXY itu sudah mengalami penurunan cukup lumayan. Secara fundamental banyak yang mempertanyakan mengenai US itu sendiri, dari sisi fiskal government-nya sebenarnya sedang tidak jalan,” kata Adi. Ia mencontohkan berbagai fasilitas publik di AS yang terganggu karena pegawai tidak dibayar, serta tingginya utang dan kebijakan perdagangan era Trump yang kembali menimbulkan ketidakpastian.
Baca Juga
Situasi tersebut membuat dolar AS, yang selama ini dianggap aset aman, kini justru dipandang berisiko. Belum adanya mata uang lain yang cukup kuat untuk menggantikannya membuat banyak investor beralih ke emas, yang sepanjang tahun ini mencatat kenaikan signifikan dan dibeli besar-besaran oleh bank sentral dunia.
Meski demikian, bukan berarti pasar AS sepenuhnya kehilangan daya tarik. Adi menyebut adanya anomali dalam preferensi investor.
“Kalau kita melihat dari sisi equity, sebenarnya ada concentration investment di US equity. Concentration-nya itu banyak yang masuk ke AI related sector dan technology related sector. Yang old economy sector sebenarnya tidak banyak diminati,” tuturnya.
Menurutnya, sektor terkait AI menjadi penggerak utama aliran investasi global karena dianggap sebagai game changer yang memengaruhi kehidupan dan bisnis secara global dalam jangka panjang.
Di tengah fase kebijakan moneter The Fed yang memasuki periode lebih longgar (easy), dolar AS melemah dan sejumlah mata uang emerging market mendapatkan keuntungan. Kondisi ini sekaligus memperkuat urgensi diversifikasi aset dan wilayah investasi.
Investor kini tidak lagi melihat pasar berkembang dan pasar maju sebagai satu kelompok homogen, melainkan memilih secara lebih spesifik wilayah dan sektor yang memiliki prospek pertumbuhan berkelanjutan.

