Big Banks Jadi Incaran Asing, Ini Target Harga BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kinerja saham-saham big banks seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) da PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali mencuri perhatian pasar, seiring meningkatnya minat beli dari investor asing sepanjang sebulan terakhir.
Berdasarkan data BEI, asing melakukan net buy sebesar Rp 1,1 triliun di BBCA, Rp 413 miliar di saham BBNI, Rp 318 miliar di BMRI, dan Rp 78 miliar di BBRI.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengungkapkan arus masuk dana asing ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan makro yang positif. Sedangkan dari sisi makro, ekspektasi penurunan suku bunga global pada 2025 dan stabilitas ekonomi domestik menjadi katalis utama.
"Investor asing melihat sektor perbankan Indonesia sebagai pilihan defensif dengan fundamental kuat, didukung likuiditas tinggi, pertumbuhan kredit yang mulai akseleratif, serta rasio NIM yang tetap solid di tengah turunnya cost of fund," kata Hendra kepada investortrust.id, Jumat, (7/11/2025).
Meski harga saham big banks sudah menguat cukup signifikan, peluang bagi investor ritel sebenarnya belum sepenuhnya tertutup. Pola akumulasi asing menunjukkan kepercayaan terhadap prospek jangka menengah, bukan sekadar momentum jangka pendek, dengan fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki valuasi relatif lebih murah dibanding peers.
Berdasarkan data BEI, asing melakukan net buy sebesar Rp 1,1 triliun di BBCA, Rp 413 miliar di saham BBNI, Rp 318 miliar di BMRI, dan Rp 78 miliar di BBRI.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengungkapkan arus masuk dana asing ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan makro yang positif. Sedangkan dari sisi makro, ekspektasi penurunan suku bunga global pada 2025 dan stabilitas ekonomi domestik menjadi katalis utama.
"Investor asing melihat sektor perbankan Indonesia sebagai pilihan defensif dengan fundamental kuat, didukung likuiditas tinggi, pertumbuhan kredit yang mulai akseleratif, serta rasio NIM yang tetap solid di tengah turunnya cost of fund," kata Hendra kepada investortrust.id, Jumat, (7/11/2025).
Meski harga saham big banks sudah menguat cukup signifikan, peluang bagi investor ritel sebenarnya belum sepenuhnya tertutup. Pola akumulasi asing menunjukkan kepercayaan terhadap prospek jangka menengah, bukan sekadar momentum jangka pendek, dengan fokus pada saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki valuasi relatif lebih murah dibanding peers.
Misalnya, saham BBNI dan BMRI yang masih diperdagangkan dengan PBV di bawah 2x, menawarkan potensi upside lebih menarik ketimbang BBCA yang sudah premium di atas 4x. Sementara BBRI bisa menjadi opsi bagi investor yang mencari stabilitas dividen dan pertumbuhan kredit mikro yang berkesinambungan.
"Dari sisi prospek, Hendra menilai saham BBCA masih diuntungkan oleh efisiensi biaya dan dominasi di segmen transaksi digital yang menopang fee-based income. BMRI memiliki prospek kuat dari pembiayaan korporasi dan proyek infrastruktur pemerintah, apalagi jika stimulus fiskal 2025 berjalan agresif," ujarnya.
BBNI tengah menikmati momentum transformasi digital dan ekspansi kredit produktif yang mulai memperbaiki profitabilitas. Sementara BBRI masih menjadi tulang punggung inklusi keuangan dengan kontribusi besar dari segmen ultra mikro melalui Pegadaian dan PNM.
Dengan demikian, Hendra merekomendasikan saham BBCA buy on breakout dengan target Rp 11.000, BMRI buy dengan target Rp 8.000, BBNI buy dengan target Rp 6.400, dan BBRI buy dengan target Rp 6.000.

