IHSG Tumbuh 16,83% YTD, Pasar Modal Indonesia Tangguh Meski Sempat Terkoreksi
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja pasar modal Indonesia menunjukkan ketangguhan sepanjang tahun berjalan yang ditunjukkan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 16,83% secara year to date (ytd) hingga 24 Oktober 2025. Rata-rata nilai transaksi harian mencapai Rp 16,46 triliun dan jumlah investor aktif harian sekitar 232.000.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengatakan capaian tersebut mencerminkan pemulihan pasar modal yang solid. “Pertumbuhan IHSG tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara,” ujar Iman dalam acara Economic Outlook 2026: Meraih Peluang di Tengah Ketidakpastian Global yang diselenggarakan Hana Bank.
Baca Juga
Net Buy Berlanjut Rp 305,08 Miliar, Asing Borong TLKM dan BBCA
Iman menjelaskan, kepemilikan institusi domestik meningkat sejak awal tahun, sementara investor ritel tetap mendominasi aktivitas perdagangan. Ia memperkirakan sentimen pasar berpotensi membaik menuju akhir tahun, seiring ekspektasi penurunan suku bunga acuan.
Namun, di tengah tren positif tersebut, IHSG sempat terkoreksi pada perdagangan Selasa (4/11/2025). Setelah menembus rekor tertinggi baru di level 8.317,075, IHSG ditutup melemah 33,17 poin atau 0,40% ke posisi 8.241,91, dipengaruhi aksi ambil untung dan sentimen global.
Baca Juga
IHSG Hari Ini Ditutup Mendadak Berbalik Melemah, Aksi Ini Jadi Pemicu Utamanya
Semetara itu, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai bahwa pergerakan IHSG kini masih dalam fase sehat. “Banyak investor profit taking di saham big caps, terutama perbankan dan komoditas yang sudah naik minggu lalu. Isu geopolitik juga membuat pasar cenderung risk-off, namun dampaknya lebih ke psikologis, bukan fundamental,” katanya.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menegaskan koreksi IHSG masih wajar dalam tren penguatan. “Kami memperkirakan koreksi ini cukup wajar mengingat pergerakannya cenderung uptrend. Selain itu, rupiah melemah terhadap dolar AS dan mayoritas bursa global juga terkoreksi. Ketegangan di kawasan Asia turut memberikan tekanan,” tutur Didit.

