Waskita Karya Bukukan Rp 5,6 Triliun Kontrak Baru hingga Oktober 2025
JAKARTA, investortrust.id – PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) mencatat nilai kontrak baru (NKB) sekitar Rp 5,6 triliun hingga Oktober 2025. Realisasi tersebut turun 17,64%, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 6,8 triliun.
Meski turun, manajemen menegaskan bahwa capaian kontrak baru menunjukkan kepercayaan proyek terhadap perseroan tetap terjaga, seiring upaya peningkatan kinerja keuangan.
Baca Juga
Perkuat Pendalaman Pasar Keuangan Syariah, OJK Dorong Inovasi Teknologi
Corporate Secretary Waskita Karya (WSKT) Ermy Puspa Yunita menyampaikan bahwa proyek sumber daya air (SDA) menjadi kontributor terbesar portofolio kontrak baru tahun ini. Hal ini selaras dengan program pemerintah dalam memperkuat swasembada pangan serta ketahanan energi dan air.
“Perseroan terus berkontribusi dalam mewujudkan Asta Cita Presiden, Program Prioritas Pemerintah, serta Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) melalui pembangunan sarana dan prasarana, pedesaan dan perkotaan, hunian yang berkualitas, juga IKN,” ujarnya dalam paparan publik virtual, Selasa (4/11/2025).
Hingga September 2025, Waskita mengelola 65 proyek berjalan, mencakup konektivitas dan infrastruktur air. Di antaranya Jalan Tol Probolinggo–Banyuwangi, Tol IKN Seksi 3B, LRT Jakarta Fase 1B, hingga pembangunan Bendungan Mbay dan Jragung.
Terbaru, Waskita mengantongi Paket Pekerjaan Konstruksi Karian Dam–Serpong Conveyance System (KSCS) Package 1 dengan nilai Rp 484,3 miliar. Sebelumnya, perseroan juga dipercaya mengerjakan Daerah Irigasi (DI) Komering Sub DI Lempuing Fase 3 Paket I di Sumatera Selatan senilai Rp 318,54 miliar.
Baca Juga
Prabowo Tanggung Jawab atas Utang Whoosh, Beberkan Manfaat Kereta Cepat
“Kami juga membangun rumah sakit berkualitas, meningkatkan produktivitas lahan pertanian, membangun dan merevitalisasi sekolah, serta infrastruktur desa dan kelurahan,” tutur Ermy.
Selama satu dekade terakhir, ratusan proyek telah diselesaikan dan dimanfaatkan masyarakat. Mulai dari Jalan Tol Cimanggis–Cibitung, Tol Semarang–Batang, Jalan Lintas Selatan (JLS) Lot 6B Jawa Timur, hingga Jembatan Ogan di Sumatera Selatan.
“Semakin banyak akses konektivitas dibangun, semakin cepat pemerataan kesejahteraan terwujud. Infrastruktur jalan dan transportasi tidak hanya memperlancar mobilitas dan logistik, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru,” pungkas Ermy.

