Hati-hati! "Rebound" Bitcoin Belum Aman, CPI dan Perang Dagang Bisa Ubah Arah Pasar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Harga Bitcoin (BTC) sempat turun ke kisaran US$ 106.000 atau sekitar Rp 1,76 miliar (kurs dolar AS Rp 16.634) pada Kamis (23/10/2025) sebelum kembali menguat ke atas US$ 108.000 (Rp 1,79 miliar), setelah aksi jual oleh investor mereda dan arus masuk ETF spot meningkat. Namun, volatilitas tinggi membuat pelaku pasar berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI) pada Jumat (24/10/2025) mendatang.
Data internal Tokocrypto menunjukkan, BTC sempat menguji area support di US$ 106.100 setelah gagal menembus level resistance atas. Kondisi ini terjadi di tengah penguatan dolar AS (DXY) dan pelemahan harga emas yang terancam kehilangan level psikologis US$ 4.000 per ons.
“Pergerakan harga Bitcoin kali ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika likuiditas jangka pendek dan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Arus masuk ETF memang memicu rebound teknikal, namun tekanan makroekonomi masih membatasi potensi kenaikan yang lebih agresif," ujar Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto dalam risetnya, Kamis (23/10/2025).
Baca Juga
Harga Emas Catat Penurunan Harian Terbesar dalam 5 Tahun, Bagaimana Dampaknya ke Bitcoin?
Sementara itu, analis memperkirakan minggu ini akan menjadi periode penting bagi pasar aset berisiko, dengan data CPI September menjadi satu-satunya indikator yang bisa mempengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed.
“CPI yang lebih lemah mendekati 0,2% akan memperkuat prospek penurunan suku bunga dan memperbaiki sentimen terhadap aset kripto, termasuk Bitcoin," ujar Fyqieh.
Pasar sendiri telah memperhitungkan kemungkinan besar (98,9%) bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan 29 Oktober mendatang. Namun, sejumlah analis mengingatkan bahwa pemangkasan tersebut bisa menjadi peristiwa sell the news, sebagaimana yang terjadi pada pemotongan pertama September lalu, di mana pasar kehilangan kapitalisasi hingga US$ 60 miliar sesaat setelah pengumuman.
Baca Juga
Changpeng Zhao Prediksi Bitcoin Akan Salip Emas dalam Kapitalisasi Pasar
Ketegangan Dagang AS–China
Selain faktor moneter, ketegangan dagang antara AS dan China juga menjadi variabel penting dalam dinamika pasar kripto. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di KTT APEC pada 31 Oktober untuk membahas potensi kesepakatan perdagangan sebelum tarif baru sebesar 100% diberlakukan pada 1 November.
Analis Standard Chartered, Geoff Kendrick, memproyeksikan harga BTC dapat turun di bawah US$ 100.000 dalam jangka pendek akibat ketidakpastian ini. Namun, ia tetap optimistis bahwa Bitcoin dapat menembus US$ 200.000 pada akhir tahun, seiring meningkatnya likuiditas global dan arus masuk ke ETF kripto.
Fyqieh menilai, kombinasi antara ketegangan geopolitik dan ekspektasi penurunan suku bunga menciptakan fase yang disebutnya “ketidakpastian terkendali” bagi Bitcoin. “Pasar saat ini sedang menimbang dua hal yang berlawanan: tekanan dari sisi makro seperti perang dagang dan inflasi, serta harapan pemangkasan suku bunga yang bisa mendongkrak likuiditas. Dalam situasi ini, investor ritel sebaiknya menunggu konfirmasi tren baru setelah rilis CPI,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika inflasi AS menunjukkan tanda perlambatan dan DXY terus melemah, maka peluang bagi BTC untuk kembali menguji area US$ 115.000–US$ 120.000 masih terbuka. Namun jika data CPI justru lebih tinggi dari ekspektasi, pasar bisa kembali menguji support kuat di kisaran US$ 100.000.
“Investor perlu memperhatikan bukan hanya angka CPI, tapi juga bagaimana pasar obligasi dan dolar meresponsnya. Karena keduanya menjadi indikator arah selanjutnya bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya,” pungkas Fyqieh.
Menjelang akhir Oktober, pasar kripto menghadapi kombinasi faktor penting, penutupan CME gap, rilis data CPI AS, keputusan suku bunga The Fed, dan potensi pertemuan antara AS–China. Semua faktor ini akan menentukan apakah Bitcoin akan melanjutkan tren bullish menuju target ambisius US$ 200.000 atau justru terkoreksi di bawah US$ 100.000 dalam jangka pendek.

