Gerak Pasar Kripto Bervariasi Jelang Rilis Data CPI AS, Bitcoin Lanjut Menguat Namun Ethereum Turun
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin kembali melanjutkan kenaikan usai mengalami pemulihan pada Senin (12/8/2024) hingga mencapai level US$ 60.800, kembali naik pasca terjadinya penurunan yang terjadi selama akhir pekan. Volatilitas beberapa hari terakhir mencerminkan sentimen pasar kripto yang masih sensitif setelah mengalami koreksi besar dalam sebulan terakhir.
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (14/8/2024), Bitcoin (BTC) terpantau naik 2,28% dalam 24 jam terakhir ke US$ 60.850 dan BNB menguat 1,06% ke US$ 524. Lalu Ethereum (ETH) turun 0,15% ke US$ 2.711 dan Solana (SOL) ambles 0,40% ke US$ 145.
Kapitalisasi pasar kripto global tercatat sebesar US$ 2,13 triliun, meningkat 1,45% dibandingkan hari terakhir. Total volume pasar kripto selama 24 jam terakhir adalah US$ 65,32 miliar, turun 20,80%. Dominasi Bitcoin saat ini sebesar 56,27%, meningkat 0,46% sepanjang hari.
Adapun, perdagangan ETF Bitcoin Spot di AS kembali menutup tren negatif pekan lalu dengan dengan total net outflow mencapai $169 juta antara 5-9 Agustus, melanjutkan tren negatif pada minggu sebelumnya.
Di sisi lain, perdagangan ETF Ethereum di AS pada akhirnya ditutup dengan positif pekan lalu. Dimana berhasil menutup total net inflow sebesar US$ 104,75 juta periode perdagangan 5-9 agustus dimana menghentikan tren negatif sejak pertama kali diperdagangkan pada 23 Juli 2024.
Sementara alternative coin (altcoin) juga mengalami perkembangan positif sepanjang pekan lalu di mulai dengan Hakim Analisa Torres memberikan keputusan akhir dalam gugatan Ripple versus SEC pada 7 Agustus, menjatuhkan denda sebesar US$ 125 juta kepada Ripple atas pelanggaran undang-undang sekuritas terkait penjualan XRP kepada institusi. Keputusan ini mengakhiri gugatan yang berlangsung selama 45 bulan tanpa adanya banding.
Baca Juga
Sebelum Bull Market 2024 Dimulai, 5 Koin Kripto Ini Potensial untuk Dibeli
Sementara itu, di Brasil, otoritas pengawas sekuritas negara tersebut telah menyetujui peluncuran ETF Solana pertama pekan lalu. Namun, produk ini masih berada dalam tahap pra-operasional. Laporan menyebutkan bahwa ETF tersebut perlu mendapatkan persetujuan dari bursa saham Brasil sebelum resmi diluncurkan.
Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha mengatakan, pekan ini Bitcoin sedang berjuang untuk bertahan di atas US$ 59.000 untuk kembali menguji MA-50 di sekitar US$ 61.750.
"Namun, jika mengalami penolakan di area resistance US$ 60.000, maka BTC potensi kembali melemah ke sekitar support US$ 57.000," ujarnya dalam riset, Rabu (14/8/2024).
Pekan ini, pasar aset kripto diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh sejumlah data ekonomi penting. Misalnya laporan Indeks Harga Produsen (PPI) bulan Juli yang sudah dirilis. Laporan ini mencerminkan harga input bagi produsen dan pabrikan, yang mengukur biaya produksi barang konsumsi dan secara langsung mempengaruhi harga ritel.
Adapun tingkat harga produsen atau Producer Price Index (PPI) di Amerika Serikat pada bulan Juli 2024, masih mengalami kenaikan, meskipun lebih rendah dari yang diperkirakan.
Kenaikan bulan PPI Juli karena adanya pemulihan biaya barang yang didorong oleh energi diredam oleh sektor jasa yang lebih murah.
Hal ini menunjukkan bahwa inflasi AS terus menurun sehingga mendukung arah kebijakan pemotongan suku bunga The Fed pada bulan depan.
Baca Juga
Penggemar Kecewa, Kripto Tak Dibahas dalam Wawancara Elon Musk - Donald Trump
Selain itu, laporan Indeks harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Juli akan dirilis pada hari Rabu (14/8/2024) WIB memberikan gambaran yang lebih luas tentang tekanan inflasi. CPI secara bulanan diperkirakan akan naik 0,2% MoM setelah mengalami penurunan 0,1% MoM di bulan Juni. Namun, diprediksi tidak berubah sebesar 3% YoY yaitu sama dengan periode sebelumnya.
“Data inflasi pekan ini menjadi penentu kebijakan Federal Reserve selanjutnya, yang bisa berdampak signifikan pada dinamika pasar Bitcoin. Konferensi tahunan Jackson Hole yang diadakan oleh Federal Reserve Bank of Kansas City pada 22-24 Agustus juga menjadi fokus. Di mana pidato Jerome Powell diprediksi akan memberikan sinyal penting mengenai arah kebijakan moneter di masa depan, yang akan sangat mempengaruhi volatilitas Bitcoin,” kata Panji.

