Bagikan

Saat IHSG Terpengaruh Tensi Geopolitik, Saham Tambang Logam hingga 4 Saham Ini Layak Dilirik

Poin Penting

IHSG uji resistance di 8.247, risiko koreksi terbuka.
Perang dagang AS–China tekan sentimen pasar global.
Saham komoditas dan energi berpeluang jadi penopang.

JAKARTA, investortrust.id Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (14/10/2025), berpotensi tertekan dalam jangka pendek, seiring peningkatan tensi geopolitik dan perang dagang global. Sedangkan saham emiten emas hingga TOBA, DKFT, BUMI, dan SCMA layak untuk dicermati.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, secara teknikal, IHSG mulai kehilangan tenaga penguatan.  “Secara teknikal, IHSG tampak kehilangan momentum jangka pendek. Penutupan di level 8.227,20 menunjukkan indeks sedang menguji resistance kuat di kisaran 8.247. Dengan stochastic masuk area overbought, tekanan jual berpotensi muncul jika IHSG gagal bertahan di atas level psikologis 8.211 (MA5),” ujar Hendra kepada Investortrust.id, Senin (13/10/2025).

Baca Juga

Wow, Harga Emas Tembus Rekor Baru di Atas US$ 4.100

Jila koreksi berlanjut, dia menambahkan, IHSG berpeluang menguji support di kisaran 8.050–8.096 (MA20) sebelum mencoba rebound. Meski demikian, peluang penguatan jangka pendek masih terbuka karena saham berkapitalisasi kecil dan sektor komoditas masih mencatat aliran beli asing.

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana ()
Source:

Dari sisi global, ketegangan antara Amerika Serikat dan China meningkat setelah Presiden Donald Trump menaikkan tarif impor dari 30% menjadi 130% terhadap produk Tiongkok. “Kebijakan ini berisiko mengganggu rantai pasok global dan menekan pertumbuhan ekonomi dunia yang bisa berdampak pada ekspor dan investasi lintas negara,” jelasnya.

Menurut Hendra, efek perang tarif tersebut bagi pasar saham Indonesia muncul dalam bentuk pelemahan sentimen risiko (risk-off), mendorong aliran dana asing keluar dari aset berisiko. Sektor otomotif, elektronik, dan bahan baku industri dinilai paling terdampak akibat potensi gangguan rantai pasok dan proteksionisme dagang.

Baca Juga

Penjualan Mobil Lesu 5 Bulan Beruntun, Gaikindo Evaluasi Ulang Target Penjualan 2025  

Sebaliknya, lonjakan harga emas dan perak akibat eskalasi konflik justru menguntungkan saham-saham logam mulia, seperti MDKA, BRMS, PSAB, dan ANTM, yang berpotensi meraih margin lebih tinggi. Sektor tambang logam, terutama emas dan nikel, juga diuntungkan atas kebijakan China yang memperketat ekspor rare earth materials. Kondisi ini dapat membuka peluang bagi Indonesia menjadi pemasok alternatif logam strategis dunia dan menguntungkan emiten tambang serta energi baru.

Saat kondisi pasar tengah berfluktuasi, Hendra menyarankan investor tetap selektif dan defensif. “Saham-saham komoditas seperti TOBA (target Rp1.575), DKFT (Rp900), OASA (Rp356), dan BUMI (Rp168) masih layak diakumulasi karena diuntungkan dari kenaikan harga energi dan logam. Sementara SCMA juga direkomendasikan buy dengan target Rp500,” ujarnya.

Hendra menegaskan, meski perang tarif AS–China berpotensi menjadi hambatan bagi IHSG, peluang tetap terbuka bagi investor yang jeli membaca rotasi sektor. “Fokus pada emiten dengan katalis fundamental kuat dan prospek komoditas global positif akan menjadi kunci menghadapi volatilitas pasar ke depan,” pungkasnya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024