‘Asing Kabur’ dari BEI, Pertanda Positif bagi Pasar Saham Domestik?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor asing memilih ‘kabur’ dari pasar saham Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, mereka terus melepas portofolio sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Benarkah fenomena hengkangnya investor asing merupakan pertanda positif bagi pasar saham domestik?
Investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) senilai total Rp 53,49 triliun selama tahun berjalan (year to date/ytd) per 10 Oktober 2025. Alhasil, komposisi investor asing di pasar saham domestik tergerus menjadi 28%.
Padahal, per Agustus 2025, aset yang dimiliki investor asing masih 37,81% dari total aset di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Pada saat yang sama, porsi kepemilikan investor domestik mencapai 62,19%.
Baca Juga
Net Sell Berlanjut Rp 455,20 Miliar, Pemodal Asing Lepas Saham BBCA hingga BREN
Nah, dalam pandangan pengamat pasar modal, Wahyu Tri Laksono, berkurangnya investor asing di pasar saham Indonesia justru menunjukkan perkembangan positif.
“Berkurangnya porsi investor asing dan meningkatnya dominasi investor domestik secara umum dapat dilihat sebagai perkembangan yang baik bagi pasar modal Indonesia,” jelas Wahyu kepada investortrust.id, baru-baru ini.
KSEI juga mencatat, jumlah investor domestik tumbuh signifikan hingga menembus angka 18 juta single investor identification (SID). Sekitar 50% di antaranya berusia di bawah 30 tahun.
Optimisme dan Kepercayaan
Menurut Wahyu Tri Laksono, meningkatnya jumlah investor lokal, terutama dari kalangan muda, mencerminkan tumbuhnya optimisme dan kepercayaan terhadap perekonomian nasional dan pasar modal Indonesia itu sendiri.
Baca Juga
Aksi Jual Asing masih Deras hingga Outflow Saham Rp 54 Triliun, Ternyata Ini Pemicunya
Komposisi baru investor pasar modal Indonesia dipercaya dapat mengurangi ketergantungan pasar terhadap hot money atau dana spekulatif jangka pendek dari investor asing.
Ketika terjadi arus keluar dana asing dalam jumlah besar, pasar tidak akan jatuh terlalu dalam karena ada investor lokal yang siap menyerap saham-saham yang dijual.
“Pertumbuhan investor ritel domestik yang kuat dan menyerap saham-saham yang dijual asing, menunjukkan fundamental pasar modal yang lebih kokoh. Ini menciptakan stabilitas jangka panjang,” tegas Wahyu.
Meskipun demikian, dia tidak menafikan bahwa peran investor asing tetap penting. Pasalnya, aliran investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dapat membawa modal, transfer teknologi, dan keterampilan yang esensial untuk meningkatkan daya saing bisnis nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Net Sell Membengkak
Aksi jual bersih alias net sell investor asing di pasar saham Indonesia sempat mencapai Rp 54 triliun (ytd). Berbagai faktor global dan domestik menjadi pemicu, dari suku bunga The Fed, ketidakpastian ekonomi global, hingga dinamika ekonomi domestik.
Ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor eksternal utama yang memengaruhi sentimen investor asing terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kenaikan suku bunga The Fed dapat membuat aset di AS menjadi lebih menarik, sehingga investor menarik dananya dari negara lain.
Konflik geopolitik global dan potensi perlambatan ekonomi dunia turut memperburuk sentimen investor asing. Hal ini mendorong mereka mengurangi eksposur risiko di emerging markets.
Baca Juga
BI: Rupiah Melemah Tipis, Yield SBN Turun, Asing Jual Neto di Pekan Pertama Oktober 2025
Pelemahan beberapa sektor saham, seperti teknologi, transportasi, dan logistik juga berkontribusi terhadap penurunan IHSG. Aksi jual pun terjadi terhadap saham-saham perbankan BUMN, seperti BBRI, BMRI, dan BBCA yang secara historis sering menjadi target jual investor asing.
Proyeksi Net Sell
Meskipun net sell terus berlanjut, menurut Wahyu Tri Laksono, beberapa sekuritas asing masih memiliki pandangan optimistis terhadap IHSG. Proyeksi target IHSG hingga akhir 2025 berkisar 7.750 hingga 8.200, dengan asumsi sentimen positif dari sejumlah faktor.
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang kuat, inflasi yang terjaga, dan belanja pemerintah yang tinggi diharapkan dapat mendorong aktivitas ekonomi.
Pemulihan ekonomi di negara-negara mitra dagang utama, seperti China, dapat memberikan dampak positif tidak langsung bagi Indonesia, terutama pada sektor-sektor tertentu.
Namun, beberapa analis juga menyarankan kehati-hatian pada paruh kedua 2025 karena potensi perlambatan ekonomi global. “Selain itu, dinamika politik domestik pasca-pemilu dapat memengaruhi pergerakan IHSG, di mana investor mungkin akan menahan diri untuk berinvestasi,” tandas Wahyu.

