Menkeu Purbaya Sebut Kripto Bagus Untuk Investasi, Tapi Ada Syaratnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menilai aset kripto memiliki potensi sebagai instrumen investasi yang menarik, termasuk bagi generasi muda, khususnya Gen Z. Namun, ia menegaskan keberhasilan di pasar kripto menuntut pemahaman analisa teknikal hingga makroekonomi global, bukan sekadar ikut tren.
Ia pun mengingatkan generasi muda agar tidak sekadar ikut tren dalam berinvestasi aset kripto. Ia menilai keberanian Gen Z masuk ke investasi digital merupakan langkah positif, namun tetap membutuhkan pemahaman yang mendalam.
“Bagus untuk berani investasi, bagus saya pikir. Cuma pelajari betul teori-teorinya. Kripto itu apa. Yang paling penting kalau kripto kan yang nggak pendek. Anda mesti ngerti teknikalnya seperti apa kalau mau berhasil di sana,” ujar Purbaya dikutip Rabu (1/10/2025).
Baca Juga
Purbaya menekankan bahwa kripto bukan instrumen instan, melainkan sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Karena itu, generasi muda perlu menguasai teknik analisa jangka pendek maupun jangka panjang, serta memahami arah kebijakan ekonomi dunia.
“Terus mengerti juga teknik analisa yang jangka pendek. Terus kalau jangka panjang, anda bisa lihat juga makroekonomi seperti apa. Karena kripto pada dasarnya dipengaruhi oleh gerakan makroekonomi, utamanya di Amerika,” kata ia.
Fenomena meningkatnya minat Gen Z terhadap aset digital tercermin dari pesatnya pertumbuhan platform exchange dan edukasi keuangan di Indonesia. Namun, Purbaya menegaskan bahwa keberhasilan investasi tidak cukup ditentukan oleh keberanian, melainkan disiplin analisa dan pemahaman konteks ekonomi global.
Baca Juga
Tak Hanya Purbaya, Sosok Anak Eks Menkeu Ini Juga Aktif di Kripto
Yang menarik, nasehat tersebut tampaknya juga berlaku buat Yudo Achilles Sadewa, putra Menkeu Purbaya yang ternyata sudah menjadi trader kripto sejak usia 16 tahun. “Modal awal Rp 500.000 sisa uang jajan, cuma lihat internet yang sediakan layanan investasi, digunakan pertama kali dalam trading binary option lalu saya investasikan di Shiba Inu (meme coin yang harganya dibawah Rp 1),” ujar Yudo mengutip Suara Merdeka, Minggu 16 Januari 2022.
Yudo sangat penasaran, kenapa keuntungan banyak orang kaya di trading, meski awal-awal dirinya sempat khawatir investasi di kripto ia anggap sangat berisiko.
Ia mengatakan, sebulan ikut trading loss, dana awal tersisa tinggal Rp 50.000. Sesuai arti nama tengahnya Achilles yakni Dewa Perang-Yudo tidak patah arang bangkit dan berjuang begitu kira-kira.
"Bahkan saya pernah loss Rp 156 juta itu mata uang Dogecoin, saya waktu itu ikut-ikutan (FOMO, red) Twitter itu banyak yang nge-tweet misalnya Elon Musk dan harganya naik, jadi dalam trading hal yang harus dihindari ya FOMO itu," kata Yudo.
Yudo melanjutkan kisah fenomenalnya, dirinya kaget suatu ketika modalnya menjadi Rp 10 juta lalu dibelikan Shiba Inu di akhir 2019. "Terkaget-kaget karena Shiba Inu dalam 3 bulan terakhir 2021 melonjak hingga Rp 400 juta, lalu saya jual ke USD Tether,” katanya.
Dalam beberapa tahun berikutnya, pria kelahiran 2006 ini berhasil meraih keuntungan berlipat ganda, bahkan dilaporkan mengantongi cuan hingga Rp 13 miliar pada 2024. Keterlibatan Yudo di dunia kripto semakin menonjol. Ia kerap membagikan analisis dan strategi trading melalui akun media sosialnya, termasuk Instagram @yudo4dewa, yang membuat perjalanan karirnya terus menjadi sorotan publik.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan menegaskan bahwa investasi yang dilakukan anggota keluarga adalah ranah pribadi dan tidak terkait dengan kebijakan negara. Langkah tersebut mencerminkan semakin luasnya penerimaan kripto di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk dari kelompok yang dekat dengan pusat kebijakan fiskal. Namun, mereka tetap mengingatkan pentingnya aspek regulasi dan mitigasi risiko, mengingat fluktuasi harga kripto yang tinggi.

