5 Konglomerasi Saham Kuasai 'Market Cap' BEI, dari Grup Barito hingga Danantara
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Saham-saham milik grup konglomerasi masih menjadi tulang punggung pergerakan kapitalisasi pasar (market cap) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data terbaru dari Datatrust menunjukkan bahwa sebagian besar nilai pasar saham di BEI dikuasai oleh segelintir grup besar, yang mengontrol hingga lebih dari 60 persen dari total market cap bursa. Dominasi ini menunjukkan betapa kuat dan sentralnya peran konglomerasi dalam lanskap pasar modal Indonesia saat ini.
Melansir data yang diolah DataTrust, per 25 September 2025, Barito Group memimpin sebagai konglomerasi dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar, yakni mencapai Rp 2.662,18 triliun atau setara dengan 18,79% dari total market cap BEI.
Menariknya, Barito hanya memiliki tujuh emiten tercatat, namun dua di antaranya memiliki bobot besar: PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai Rp 1.200,73 triliun dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) senilai Rp 668,30 triliun. Keduanya menjadi tulang punggung dominasi Barito di sektor energi dan petrokimia.
Mengikuti di peringkat kedua adalah Salim Group dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 2.007,64 triliun atau 14,17% dari total market cap BEI. Salim dikenal sebagai raksasa dengan jaringan emiten yang luas, mencakup sektor konsumer, makanan, ritel, hingga infrastruktur. Dengan total 22 emiten di bursa, grup ini tetap menjadi pemain besar yang stabil dan konsisten selama beberapa dekade terakhir.
Danantara Group berada di posisi ketiga dan menjadi sorotan karena berhasil mengumpulkan nilai kapitalisasi pasar Rp 1.925,53 triliun, mewakili 13,59% dari total pasar. Yang menarik dari Danantara adalah jumlah emitennya yang mencapai 26 perusahaan, menjadikannya grup konglomerasi dengan jumlah emiten terbanyak di BEI. Meski nama Danantara belum terlalu populer di kalangan awam, kehadirannya di berbagai sektor strategis membuktikan kemampuannya dalam melakukan ekspansi agresif dan efisien.
Posisi keempat ditempati oleh Sinarmas Group dengan kapitalisasi pasar Rp 1.189,79 triliun atau 8,40% dari total. Dikenal luas di sektor keuangan, properti, agribisnis, dan pulp & paper, Sinarmas tetap menjadi kekuatan lama yang tak tergeser di lantai bursa. Sementara itu, Djarum Group mengisi posisi kelima dengan kapitalisasi pasar Rp 1.031,53 triliun, mencakup 7,28% dari total market cap BEI. Dengan hanya lima emiten, kekuatan Djarum bertumpu pada sektor keuangan dan teknologi, termasuk kepemilikan strategis dalam sektor digital dan perbankan.
Fenomena dominasi konglomerasi ini memperlihatkan bahwa struktur pasar modal Indonesia masih sangat terkonsentrasi pada kekuatan modal besar. Bagi investor ritel, memahami peta kepemilikan dan strategi konglomerasi menjadi penting, karena pergerakan saham-saham dalam grup besar ini cenderung memiliki dampak sistemik terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG).
Berikut urutan daftar Conglo Stock di Bursa Efek Indonesia:
1. Barito Group menguasai Rp 2.662,18 triliun atau setara 18,79% dari total market cap BEI. Meskipun hanya memiliki tujuh emiten, kekuatan Barito sangat besar karena didorong oleh dua emiten raksasa: PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai kapitalisasi Rp 1.200,73 triliun, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) sebesar Rp 668,30 triliun. Keduanya menjadi kontributor utama di sektor energi dan petrokimia nasional.
2. Salim Group total kapitalisasi pasar Rp 2.007,64 triliun atau menguasai porsi 14,17%. Grup ini memiliki 22 emiten yang tersebar di berbagai sektor, terutama konsumer, agribisnis, hingga infrastruktur. Dengan portofolio luas dan jejak bisnis yang kuat di dalam negeri, Salim tetap menjadi kekuatan mapan dalam dunia pasar modal Indonesia.
3. Danantara Group memiliki kapitalisasi sebesar Rp 1.925,53 triliun dengan porsi 13,59% dan jumlah emiten terbanyak di antara semua grup, yakni 26 perusahaan, Danantara menjadi pemain besar yang patut diperhatikan. Meski belum sepopuler nama-nama konglomerasi lama, sepak terjang Danantara mencerminkan strategi diversifikasi dan pertumbuhan cepat yang berhasil menembus papan atas.
4. Sinarmas Group menempati urutan keempat dengan nilai market cap Rp 1.189,79 triliun, atau sekitar 8,40% dari total pasar. Grup ini dikenal dengan kekuatannya di sektor keuangan, properti, agribisnis, dan industri berat. Dengan total 11 emiten, Sinarmas mempertahankan perannya sebagai salah satu kekuatan ekonomi terintegrasi di Tanah Air.
5. Djarum Group, yang meski hanya memiliki lima emiten, berhasil mencatatkan kapitalisasi pasar Rp 1.031,53 triliun atau sekitar 7,28% dari total BEI. Fokus Djarum terutama pada sektor perbankan dan teknologi menjadikan portofolionya sangat efisien dan bernilai tinggi.
6. Thohir Group melengkapi enam besar dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 483,97 triliun atau menguasai porsi 3,42%. Grup yang memiliki 18 emiten ini menunjukkan diversifikasi di berbagai sektor, termasuk media, infrastruktur, dan keuangan. Walau berada di posisi keenam, Thohir Group terus menguat dan konsisten memperbesar portofolionya di bursa.
Di sisi lain, ini juga menjadi tantangan bagi otoritas dan pelaku pasar untuk mendorong pemerataan kapitalisasi dan pertumbuhan emiten di luar kelompok besar.
Dengan kekuatan modal, jaringan bisnis yang luas, serta kemampuan manajemen yang solid, konglomerasi besar seperti Barito, Salim, Danantara, Sinarmas, dan Djarum akan terus memainkan peran utama dalam dinamika pasar modal nasional.

