Transformasi ke Emas Jadi Katalis Utama Saham INDY, Intip Target Harganya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) telah mencatatkan penguatan mengesanan hampir mencapai 80% disertai dengan net buy oleh investor asing sepanjang September 2025 berjalan, seiring dengan optimisme investor terhadap prospek pertumbuhan kinerja keuangan setelah bertransformasi menjadi produsen emas.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham INDY telah melesat lebih dari 79% menjadi Rp 2.290 sepanjang September berjalan. Kenaikan harga tersebut jauh mengungguli saham emas lainnya, seperti BRMS naik lebih dari 43% dan ARCI menguat lebih dari 25% untuk kurun waktu sama.
Baca Juga
Indika Energy (INDY) Operasikan PLTS 360 kW yang Bisa Hemat 350.000 Liter BBM Per Tahun
Analis Sucor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari dalam riset yang dipublikasikan pekan lalu menyebutkan bahwa kenaikan signifikan saham INDY tersebut mencerminkan optimisme investor terhadap prospek emas global serta transisi INDY yang segera bertransformasi menjadi produsen emas melalui tambang Awak Mas di Sulawesi Selatan.
“Dengan target produksi proyek Awak Mas pada semester II-2026, momentum kebangkitan kinerja keuangan INDY terbuka. Laba INDY diperkirakan bisa mencapai US$ 20 juta atau tumbuh 311% yoy pada 2026 dan melonjak menjadi US$ 122 juta pada 2027 dengan seluruhnya ditopang dari kontribusi emas,” tulisnya.
Estimasi Kinerja Keuangan INDY
Sumber: Sucor Sekuritas
Sucor Sekuritas menyebutkan bahwa proyek emas Awak Mas akan mengubah peta bisnis INDY. Apalagi tambang ini memiliki cadangan sumber daya mencapai 2,3 juta ons dan cadangan terbukti 1,5 juta ons dengan kadar 1,33 g/t, menawarkan prospek ekonomi yang menarik di tengah harga emas yang tinggi.
Perseroan juga telah menunjuk Macmahon Holding Ltd sebagai kontraktor utama dengan target produksi komersial sebesar 100–140 ribu ons per tahun mulai semester II-2026. Biaya produksi menyeluruh diperkirakan sekitar US$ 1.600 per ounce, sehingga memberi potensi margin kuat dibanding harga emas spot yang saat ini berada di atas level US$ 3.600 per ounce.
Baca Juga
Dia mengatakan, segmen tambang emas diperkirakan berkontribusi sebanyak 49% terhadap total laba operasional INDY tahun 2027. “Dengan asumsi produksi tahunan 100 ribu ons dan harga rata-rata emas US$ 3.600 per ounce, pendapatan INDY dari emas berpotensi menembus US$ 360 juta dengan estimasi laba operasional mencapai US$ 178 juta. Hal ini bisa mendorong pertumbuhan laba tahunan majemuk (CAGR) 2024–2027 sebesar 130% dengan margin laba bersih konsolidasi diproyeksikan melejit dari hanya 0,4% pada 2024 menjadi 5,0% pada pada 2027,” tulisnya.
Guna mendukung operasional, INDY telah menandatangani perjanjian refinancing dengan konsorsium perbankan senilai US$ 375 juta. Pendanaan ini akan menjadi modal penting dalam mempercepat pembangunan dan produksi komersial proyek emas tersebut. Selain itu, perusahaan resmi menunjuk Macmahon sebagai kontraktor jasa pertambangan selama tujuh tahun dengan nilai kontrak mencapai A$ 463 juta. Transformasi ini menjadi momentum perubahan signifikan dari ketergantungan INDY pada bisnis batu bara menuju diversifikasi ke emas.
Dengan potensi lompatan kinerja didukung segmen emas tersebut, Sucor Sekuritas merekomendasikan beli saham INDY dengan target harga Rp 3.300. Penilaian ini mempertimbangkan valuasi segmen bisnis emas saja mencapai US$ 911 juta atau sekitar Rp 2.800 per saham, lebih tinggi dibanding harga pasar INDY saat ini. Target harga tersebut juga mempertimbangkan tren penguatan harga emas global dan transformasi bisnis yang mulai terealisasi.

