Suku Bunga The Fed Turun, Pasar Saham makin Kondusif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Keputusan The Federal Reserve (Fed) memangkas suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) sebesar 25 basis poin (bps), setelah menahan tingkat suku bunga sejak Desember 2024, akan membawa angin segar terhadap perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Chief Equity Investment Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Samuel Kesuma, menilai penurunan ini akan menciptakan iklim pasar saham yang lebih kondusif.
Samuel menjelaskan, secara historis, siklus penurunan FFR biasanya diikuti dengan pelemahan Dolar Amerika Serikat (USD) serta penurunan imbal hasil surat utang AS (US Treasury). Kedua faktor tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham di kawasan Asia.
Baca Juga
Didukung Fundamental Kuat dan Katalis Positif, Investor Global Naikkan Target Harga Saham BBRI
“Secara historis periode pelemahan USD beriringan dengan masuknya aliran dana ke negara berkembang, sehingga kinerja pasar saham Asia menjadi unggul,” ujar Samuel, Kamis (18/9/2025).
Di Asia, tren suku bunga juga cenderung menurun. Konsensus pasar memperkirakan penurunan suku bunga di Korea Selatan, Indonesia, India, Thailand, dan Filipina guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Khusus Indonesia, Bank Indonesia (BI) dinilai cukup agresif menurunkan BI Rate. Dengan arah FFR yang masih berpotensi turun hingga 2026, Manulife Aset Manajemen memperkirakan BI akan menempuh langkah serupa.
Samuel menyebut, ekspektasi konsensus terminal rate BI Rate hingga akhir 2026 berada di kisaran 4,0%–4,5%. Sedangkan median konsensus Bloomberg memperkirakan FFR dapat menyentuh 3,25% pada periode yang sama.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat ke Level Rekor Baru 8.065, Saham CLAY hingga MLPT Naik
“Pelemahan USD, derasnya arus dana asing, serta pelonggaran moneter di Asia merupakan kombinasi positif yang mendukung pasar saham,” kata Samuel.
Namun demikian, Samuel mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik yang masih tertekan bisa membayangi kinerja emiten. Meski begitu, transmisi kebijakan pro-pertumbuhan dari bank sentral dan pemerintah diyakini akan memberi dampak ke sektor riil dan menjadi katalis ekonomi.
Secara historis, fase penurunan suku bunga terbukti suportif bagi pasar saham Indonesia. Oleh karena itu, sinyal pemulihan ekonomi domestik menjadi faktor penting untuk memulihkan keyakinan investor.
“Singkatnya, lima faktor yang membuat pasar saham tetap potensial adalah arus dana global ke emerging market, pelemahan USD, pemangkasan BI Rate, stimulus pro-pertumbuhan, serta valuasi pasar saham yang menarik,” pungkasnya.

