Antasari Place Jadi Bukti Ketangguhan Indonesian Property (INPP) Hadapi Tantangan Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kisah penyelamatan proyek mangkrak Antasari Place menjadi salah satu contoh transformasi yang berhasil di industri properti Indonesia. PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) membuktikan kapasitasnya tidak hanya dalam mengelola portofolio hotel dan mal, tetapi juga menyelesaikan proyek residensial yang sempat gagal terbangun sejak 2014. Lebih dari itu, INPP terbukti tangguh menghadapi tantangan ekonomi.
Presiden Direktur & Chief Executive Officer (CEO) INPP, Anthony Prabowo Susilo menuturkan, proyek ini awalnya bernama 45Antasari yang dikembangkan Cowel. Dari total 950 unit, sekitar 70–80% sempat terjual. Namun, proyek tersebut tersendat hingga akhirnya masuk dalam proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) pada 2019.
“Pada 2020, kami masuk sebagai investor setelah mendapat restu dari Cowel dan kreditur Bank Sinar Mas. Proposal kami akhirnya diterima pada 2021, dan sejak 2022 pembangunan resmi kami lanjutkan,” ujar Anthony di Jakarta, Jumat, (12/9/2025).
Baca Juga
Perkuat Pemasukan Berulang, Indonesia Paradise Property (INPP) Fokus Tuntaskan Proyek Ekspansi
Dalam tempo tiga tahun, kata Anthony Prabowo, INPP berhasil menuntaskan seluruh tahapan groundbreaking konstruksi pada April 2022, topping off April 2023, hingga serah terima unit Desember 2024. Kini, sekitar 80–90% konsumen sudah diundang untuk menerima unit mereka.
“Ini salah satu kisah pengambilalihan proyek dengan seluruh tahapan homologasi yang dilakukan 100%. Janji yang dulu kami sampaikan, kini sudah terwujud,” tambah Anthony.
Baca Juga
Indonesian Paradise Property (INPP) Bidik Pendapatan Berulang di Atas 70%
Bagi investor, menurut Anthony, keberhasilan INPP menggarap proyek bermasalah menjadi bukti keandalan manajemen risiko dan komitmen eksekusi yang diterapkan perseroan. Di tengah kondisi ekonomi global yang menantang, perusahaan justru mencatatkan stabilitas penjualan.
“Antasari Place tahun ini pecah rekor penjualan. Dari 980 unit, tersisa hanya 105 unit. Sebanyak 175 unit di antaranya kami kembangkan sebagai service residence, termasuk bekerja sama dengan Citadines,” tutur dia.
Strategi bisnis INPP juga relatif tangguh dibanding pemain lain. Tidak bergantung pada segmen MICE besar, mayoritas hotel yang dikelola perusahaan cenderung stabil meski terjadi pengetatan belanja pemerintah. “Tim kami cukup agile. Begitu anggaran pemerintah tertahan, kami cepat melakukan penataan di sektor lain,” ujar dia.
Direktur Utama PT Prospek Duta Sukses (pengembang Antasari Place) AH Bimo Suryono menambahkan, keberhasilan ini sekaligus menjawab keraguan pasar. “Dulu banyak pihak mempertanyakan, karena proyek ini diambil alih dari developer lain. Namun sekarang terbukti proyek selesai, konsumen terakomodasi, dan produk nyata ada di depan mata,” tandas dia.
Baca Juga
Rekor Tertinggi Baru, Indonesian Paradise (INPP) Anggarkan Capex Rp 1,1 Triliun
Meski tower pertama sudah hampir habis terjual, INPP masih berhati-hati dalam merancang tower kedua. “Kami sedang melihat formatnya, apakah akan didominasi 2BR atau 3BR. Market apartemen memang belum sepenuhnya pulih, jadi harus matang,” jelas Anthony.
Dia mengemukakan, dari sisi makro, keberhasilan INPP ini menunjukkan resiliensi sektor properti Indonesia. Di tengah isu pelemahan ekonomi dan demonstrasi yang ramai di 2025, manajemen INPP menilai kondisi saat ini masih lebih ringan dibandingkan tekanan saat pandemi.
“Sebagai pengusaha, kami jangan bergantung pada dukungan pemerintah. Kalau ada support tentu kami apresiasi, tapi mentalnya harus bisa jalan dengan kekuatan sendiri,” tegas Anthony.

