Investor Asing Net Sell BBCA Rp 8,18 Triliun hingga Anjlok 10,95% dalam Sebulan, Bagaimana Prospeknya?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemodal asing membuang saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 8,18 triliun dalam sebulan terakhir. Aksi buang tersebut berdampak terhadap penurunan harga saham bank dengan kapitalisasi (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 10,95% menjadi Rp 7.525 dalam sebulan terakhir.
Data BEI mengungkap bahwa saham BBCA menjadi penyumbang terbesar net sell saham selama sebulan terakhir. Aksi buang saham tersebut menjadikan harga saham BBCA capai level terendah baru Rp 7.525 atau level penutunan harga terendah baru terhitung sejak 2 Agustus 2022.
Baca Juga
Net Sell Melambung Rp 4,54 Triliun, Saham BBCA kembali Memimpin
Lalu, bagaimana sesungguhnya prospek saham bank ini? Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano dalam riset yang diterbitkan beberapa waktu lalu masih mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga Rp 11.900. Target ini menggunakan metode GGM berbasis inverse cost of equity dalam lima tahun.
Sumber:BRI Danareksa Sekuritas
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa pertumbuhan kinerja keuangan BBCA masih sesuai ekspektasi hingga Juli 2025. Sepanjang tujuh bulan pertama 2025, laba bersih BBCA mencapai Rp 34,7 triliun atau tumbuh 11% yoy. Capaian ini setara 60% dari estimasi tahun 2025, baik versi analis maupun consensus. Kenaikan laba ini didukung pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) dan kontribusi dividen.
BBCA juga berhasil mempertahankan stabilitas biaya dana dengan Cost of Fund (CoF) level 1,1% pada Juli 2025 (flat mom dan yoy), NIM membaik seiring yield aset produktif yang lebih tinggi. CoC terkendali hanya naik ke 0,4% (+19 bps mom, +28 bps yoy), namun masih dalam ekspektasi.
Baca Juga
Usai Rapat dengan Prabowo, Menkeu Purbaya Komitmen Jaga Defisit Fiskal 3%
Efisiensi biaya yang ditunjukkan rasio biaya terhadap pendapatan (CIR) turun ke 26,8%, karena opex lebih rendah dan NII meningkat. Likuiditas solid yang digambarkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di 79,5% dengan pertumbuhan kredit 11% yoy dan simpanan naik 6% yoy.
BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa secara keseluruhan, kinerja BBCA pada Juli 2025 dinilai netral. Efisiensi biaya mampu menahan tekanan CoC dan pajak, sementara NIM tetap tangguh di tengah biaya dana yang stabil. Hal ini membuat saham ini layak dipertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 11.900.

