Pengalaman LPS & Pasar, Purbaya Yudhi Sadewa Dinilai Bisa Perkuat Stabilitas Ekonomi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani dinilai menghadirkan kombinasi pengalaman luas di pasar keuangan, lembaga pemerintah, dan kepemimpinan di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pengalaman ini diyakini memberinya perspektif lebih komprehensif dalam menghadapi tantangan ekonomi.
BRI Danareksa Sekuritas dalam pandangannya terhadap menteri keuangan baru yang diterbitkan dalam riset pagi ini, Selasa (9/9/2025), menyebutkan bahwa latar belakang Purbaya di LPS membuatnya memahami secara mendalam keterkaitan antara belanja fiskal dan likuiditas sistem keuangan. Hal ini berpotensi mendorong reformasi pola pengeluaran fiskal yang lebih seimbang dan berkesinambungan. Selain itu, rekam jejaknya di pasar keuangan menunjukkan pemahaman kuat terhadap siklus bisnis dan ekonomi.
Baca Juga
Tanda Rebound Belum Tampak, Saham Big Cap Didominasi Bank masih Tekan IHSG
Purbaya dikenal memiliki sikap pro-growth, yang dinilai tepat di tengah momentum pertumbuhan ekonomi yang moderat. Dalam forum LPS sebelumnya, ia menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 5,4% tetap realistis, asalkan kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras. Hal ini mengindikasikan kemungkinan fokus kebijakan pada dukungan kontra-siklus untuk mendorong pertumbuhan.
“Dengan demikian, penunjukan Purbaya dipandang menghadirkan potensi kesinambungan kebijakan dengan penekanan lebih kuat pada pertumbuhan. Namun, kebijakan awalnya akan menjadi penentu seberapa cepat penerimaan pasar terhadap arah barunya,” tulis riset BRI Danareksa Sekuritas yang diterbitkan di Jakarta, pagi ini.
Pagi ini, rupiah dibuka melemah ke level Rp 16.475 per dolar AS menandakan tekanan masih berlanjut. Analis menilai kenaikan imbal hasil obligasi justru bisa menarik minat beli dari bank maupun dana pensiun. Meski volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, siklus pelonggaran moneter Bank Indonesia (BI) serta ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pekan depan berpotensi menciptakan peluang di tengah gejolak.
Baca Juga
Soal 17+8 Tuntutan Rakyat, Menkeu Purbaya: Itu Suara Sebagian Kecil Masyarakat
Begitu juga dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (9/9/2025), masih lanjutkan penurunan. Hingga pukul 11.00 WIB, penurunan telah mencapai 103 poin mencapai (1,29%) menjadi 7.665. Penyumbang utama penurunan datang dari saham keuangan, khususnya bank papan atas.
Berdasarkan data BEI, saham sektor infrastruktur anjlok 2,14%, sektor keuangan melemah 1,41%, dan sektor teknologi 1,19%. Penurunan juga melanda saham sektor sektor konsumer non primer, energi, sektor teknologi, dan sektor properti. Sebaliknya penguatan tipis melanda saham sektor transportasi, industri, dan material dasar.

