Surya Semesta (SSIA) Pertahankan Dividen 30%, Fokus Genjot Subang Smartpolitan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA), emiten konstruksi dan pengembang kawasan industri, menegaskan komitmennya menjaga kebijakan dividen yang konsisten bagi pemegang saham. Perseroan memastikan rasio pembagian dividen sekitar 30% dari laba bersih setiap tahun tetap dipertahankan.
Fokus utama perseroan tetap pada pengembangan proyek andalan Subang Smartpolitan.
Presiden Direktur SSIA Johannes Suriadjaja mengatakan dividen merupakan bagian penting dari strategi perusahaan dalam memberikan nilai tambah jangka panjang. Ia menegaskan, distribusi dividen menjadi kebijakan korporasi yang akan terus dijaga.
Baca Juga
“Ke depannya kita tetap berencana meningkatkan dividen. Pada umumnya kita melakukan rasio sekitar 30% dari net profit untuk didistribusikan sebagai dividen. Itu sudah menjadi corporate policy kita,” ujar Johannes dalam konferensi pers public expose live 2025 yang digelar secara daring pada Senin (8/9/2025).
Selain menjaga konsistensi dividen, SSIA juga terus menyiapkan berbagai aksi korporasi untuk mendukung pertumbuhan. Fokus utama perseroan tetap pada pengembangan proyek andalan Subang Smartpolitan, kawasan industri terpadu seluas 2.717 hektare dari total cadangan lahan sekitar 4.000 hektare.
Johannes menambahkan, perseroan membuka peluang kemitraan strategis untuk mempercepat pengembangan infrastruktur dan layanan pendukung di kawasan tersebut. “Kami terbuka untuk kolaborasi agar bisa menunjang pertumbuhan strategi SSIA secara keseluruhan,” katanya.
Dari sisi kinerja keuangan, SSIA membukukan pendapatan Rp 2,11 triliun pada semester I-2025, turun 9,8% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,34 triliun. Segmen properti justru mencatatkan hasil positif dengan kontribusi Rp 338,7 miliar atau tumbuh 20% year on year dari Rp 282,2 miliar pada semester I-2024.
Baca Juga
Segmen konstruksi juga mencatat kenaikan pendapatan Rp 1,70 triliun atau tumbuh 6,2% yoy dari Rp 1,60 triliun. Namun, bisnis perhotelan masih menghadapi tekanan dengan kontribusi Rp 215,6 miliar yang relatif stagnan, mencerminkan pemulihan yang belum optimal di sektor ini.

