Tanpa ‘Reshuffle’, Analis Sebut IHSG Memang Dalam ‘Downtrend’
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang berada dalam tren penurunan atau downtrend. Penurunan yang terjadi pada periode ini bukan saja akibat reshuffle setelah Sri Mulyani Indrawati diganti oleh Purbaya Yudhi Sadewa.
Technical Analyst MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan, IHSG masih rawan melanjutkan koreksinya dengan level support 7.713 dan resistance 7.836 pada perdagangan besok.
Baca Juga
Ditanya Soal Sri Mulyani Mundur atau Dicopot, Begini Respons Menkeu Purbaya
“Kalau secara teknikal seperti itu, karena pada rilis report kami beberapa hari ini masih memperkirakan adanya potensi bearish pada IHSG, kalu terjadi penguatan hanya menutup area gap,” jelas analis yang akrab disapa Didit tersebut, Senin (8/9/2025).
Terkait reshuffle Kabinet Merah Putih, khususnya Sri Mulyani, dia menegaskan, investor akan menanti kinerja menteri baru yang dilantik presiden hari ini. “Untuk sentimen sendiri, kami memang hanya melihat dari sisi teknikal saja dan secara historikal, pada seasonality IHSG periode September memang cenderung bearish,” sambung Didit.
Senada, analisis Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta juga menunjukkan bahwa rata-rata kinerja IHSG periode September dalam lima tahun terakhir, tergolong bearish. Indeks baru akan bergerak cenderung bullish pada bulan Oktober dan Desember.
“Bila IHSG konsisten diperdagangkan di bawah 7.750, maka potensi bearish consolidation phase terbuka lebar,” ungkap Nafan, baru-baru ini.
Baca Juga
Cerita Purbaya Kaget Ditunjuk Prabowo Jadi Menkeu, Dikira Penipuan
Sebagai panduan, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyarankan investor untuk memperhatikan saham-saham dengan prospek bisnis yang solid. Pelaku pasar juga disarankan melakukan strategi buy on dip dan segera merealisasikan keuntungan bila dibutuhkan. “Jangan lupa manfaatkan manajemen risiko secara efektif,” tegasnya.
Hari ini, IHSG ditutup anjlok sebanyak 100,5 poin atau 1,28% menjadi 7.766,85 dengan nilai transaksi Rp 17,90 triliun. Penurunan terjadi setelah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan keputusan Presiden Prabowo Subianto mengenai perubahan struktur Kabinet Merah Putih.
Penurunan terbesar melanda saham konsumer primer 2,48%, sektor keuangan 2,3%, infrastruktur 2,07%, sektor teknologi 1,98%, sektor properti 1,49%, dan sektor energi 0,96%. Sebaliknya penguatan melanda saham sektor material dasar, industri, dan konsumer non-primer.

