Bagikan

Meski Rugi Melambangung, Target Harga Saham EXCL Direvisi Naik, Kok Bisa?  

Poin Penting

Pendapatan EXCL tahun 2025 direvisi naik ke Rp 40,56 T, namun rugi bersih Rp 912 M.
Target harga saham EXCL direivisi naik dari Rp 2.800 menjadi Rp 3.500 dengan rekomendasi beli.
Lompatan nilai sinergi merger tahun 2026 dan kenaikan ARPU jadi kunci perbaikan jangka panjang kinerja EXCL.

JAKARTA, investortrust.id – PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) memproyeksikan kinerja lebih solid pada semester II-2025 usai konsolidasi XL Axiata dengan Smartfren sejak pertengahan April 2025. Pendapatan perseroan diprediksi meningkat menjadi Rp 21,1 triliun dan EBITDA diharapkan Rp 10 triliun pada paruh kedua tahun ini.

EXCL juga diproyeksikan membalikkan posisi rugi menjadi laba bersih senilai Rp 312 miliar pada paruh kedua tahun ini, dibandingkan semester I tahun ini dengan  rugi bersih mencapai Rp 1,2 triliun. Optimisme manajemen terhadap kinerja keuangan tersebut mendorong Sucor Sekuritas dalam riset yang diterbitkan beberapa hari lalu untuk merevisi naik kinera keuangan EXCL tahun 2025-2027.

Baca Juga

Meski Laba Sektor Telekomunikasi Turun Tajam, Valuasi Saham TLKM, ISAT, dan EXCL masih Menarik!

Sucor Sekuritas merevisi naik target pendapatan tahun ini dari semula Rp 36,85 triliun menjadi Rp 40,56 triliun. Sebaliknya bottom line direvisi turun menjadi rugi bersih Rp 912 miliar tahun ini, dibandingkan perkiraan semula dengan laba bersih Rp 2,25 triliun.

Sumber:Sucor Sekuritas

Revisi tersebut turut mencerminkan sinergi merger, biaya integrasi sekali jalan, dan peningkatan profitabilitas melalui kenaikan ARPU.  “Dengan prospek tersebut, kami merevisi naik target harga saham EXCL menjadi Rp 3.500 per saham dari sebelumnya Rp 2.800 dengan rekomendasi beli,” tulis analis Sucor Sekuritas Niko Pandowo dan Paulus Jimmy dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, awal pekan ini.

Revisi naik target kinerja keuangan tersebut mempertimbangkan  realisasi sinergi senilai US$ 150 juta tahun ini dan meningat menjadi US$ 250 juta pada 2026 bersamaan dengan peluang kenaikan ARPU. Nilai sinergi diperkirakan terutama berasal dari efisiensi jaringan di level opex. Namun sinergi ini bisa dicapai dengan terlebih dahulu menanggung biaya integrasi Rp1–1,5 triliun tahun ini.

Baca Juga

Telkom (TLKM) Diprediksi Genjot Pendapatan Semester II Lewat Bisnis B2B dan 'Data Center'

“Kendati beban awal signifikan, manajemen menilai manfaat jangka panjang berupa perbaikan profitabilitas dan arus kas akan lebih besar,” ungkapnya. Perseroan juga akan dapat dukungan dari peluang kenaikan ARPU sebanyak 2% sepanjang 2026-2028 atau rata-rata lebih tinggi dari perhitungan sebelum merger, sehingga EPS rata-rata perseroan berpotensi terdongkrak 45%.

Terkait rugi bersih EXCL senilai Rp 1,6 triliun pada semester I-2025, Sucor Sekuritas menyebutkan, dipicu adanya beban integrasi Rp 486 miliar, depresiasi dipercepat Rp 739 miliar terutama dari spektrum 900 MHz, serta rugi penurunan nilai aset PT Link Net Tbk (LINK) sebesar Rp 802 miliar.

Jika dikecualikan pos non-recurring, EXCL mencatatkan EBITDA normal Rp 4,9 triliun atau tumbuh 10% yoy dan laba bersih (PATMI) normal Rp 313 miliar atau hanya turun 19% yoy. Sepanjang semester I-2025, EBITDA normal mencapai Rp 9,3 triliun atau naik 4% yoy atau merefleksikan 49% dari target tahun ini. Namun laba bersih Rp 701 miliar turun 32% yoy atau baru memenuhi 31% dari estimasi tahunan.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024