Wall Street Melonjak, Dow Jones Cetak Rekor Usai Sinyal Pemangkasan The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, Investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat menguat tajam pada perdagangan Jumat setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga. Dow Jones Industrial Average melonjak 1,9% atau sekitar 850 poin, menutup perdagangan pada rekor tertinggi untuk pertama kalinya sejak Desember 2024. S&P 500 naik 1,5% setelah memutus tren penurunan lima hari dan menutup perdagangan hanya sedikit di bawah rekor sebelumnya, sementara Nasdaq Composite bertambah 1,9%.
Sepanjang pekan, Dow Jones dan S&P 500 masing-masing mencatat kenaikan 1,5% dan 0,3%, memperpanjang tren positif selama tiga pekan berturut-turut. Nasdaq masih mencatat penurunan 0,6% meski sempat berada di jalur menuju pekan terburuk sejak Mei. Powell dalam pidatonya di simposium ekonomi Jackson Hole menyatakan bahwa “keseimbangan risiko yang bergeser mungkin memerlukan penyesuaian kebijakan.”
Menurutnya, meskipun risiko inflasi tetap ada akibat dampak tarif, risiko pelemahan pasar tenaga kerja semakin meningkat. Konfirmasi bahwa pemangkasan suku bunga bisa dilakukan setelah The Fed menahan kebijakan sepanjang 2025 disambut positif oleh pelaku pasar, yang sejak awal telah memperkirakan perubahan kebijakan mulai September.
Sinyal dovish tersebut memicu lonjakan selera risiko investor dan mengangkat saham-saham sensitif terhadap suku bunga. Saham teknologi yang sebelumnya menekan pasar kini berbalik menguat. Tesla melonjak lebih dari 6%, Alphabet dan Amazon naik 3%, Meta bertambah 2%, sementara Nvidia, Broadcom, dan Apple naik lebih dari 1%. Microsoft juga menguat tipis. Intel terangkat 5,5% setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa perusahaan chip tersebut menjual 10% sahamnya kepada pemerintah AS.
Saham semikonduktor lainnya turut terkerek, dengan ON Semiconductor dan GlobalFoundries masing-masing naik sekitar 6%, Microchip Technology bertambah 5%, dan Indeks PHLX Semiconductor menguat hampir 3%.
Optimisme terhadap prospek suku bunga lebih rendah juga mengangkat saham sektor perumahan. D.R. Horton, Lennar, dan Toll Brothers menguat lebih dari 5%, sementara Builders FirstSource melesat 8% dan Mohawk Industries naik 7%. Saham terkait kripto turut terdorong seiring lonjakan harga bitcoin ke level 117.000 dolar AS, setelah sempat turun ke 111.700 dolar AS sebelum pidato Powell. Coinbase dan MicroStrategy masing-masing menguat lebih dari 6%.
Namun, tidak semua saham bergerak positif. Intuit, produsen perangkat lunak TurboTax, turun 5% setelah memberikan proyeksi pendapatan yang mengecewakan. Workday juga melemah 3% setelah merilis laporan laba.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,26% dari 4,33% sehari sebelumnya. Indeks dolar AS melemah 0,9% ke posisi 97,75, level terendah dalam sebulan. Harga emas berjangka naik 1,1% menjadi 3.415 dolar AS per ons, sementara minyak mentah West Texas Intermediate bertambah 0,4% menjadi 63,80 dolar AS per barel, memperpanjang penguatan tiga hari berturut-turut setelah sempat anjlok ke level terendah sejak awal Juni.
IHSG Sempat All Time High
Sementara itu di dalam negeri, Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (15/8/2025), akhirnya berhasil menembus level tertinggi baru 8.002 setelah naik 67 poin (0,82%), pada pukul 10.27 WIB atau bertepatan saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan di Sidang Tahunan MPR tahun 2025 yang digelar, Jumat (15/8/2025).
Bahkan, IHSG sampai menyentuh level all time high (ATH) 8.017 hanya dalam satu menit setelah Presiden Prabowo berpidato. Level IHSG di atas 8.000 ini menjadi kado istimewa BEI dalam rangka menyambut HUT RI ke-80 yang digelar hari Minggu.
“Secara umum, kenaikan IHSG bukan saja menggambarkan kinerja dan fundamental perusahaan besar, tetapi penopang utama kuatnya kinerja emiten di papan menengah,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar saat dimintai komentar tentang kinerja IHSG beberapa waktu lalu. Lebih lanjut, Mahendra menyebut, laju IHSG juga mencerminkan sentimen positif pasar terhadap kondisi makroekonomi dan perkembangan global. Dikatakan Mahendra, meski ketidakpastian global belum sepenuhnya hilang, situasinya lebih baik jika dibandingkan dengan tiga hingga empat bulan lalu
“Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal dua membawa suatu kepercayaan atau keyakinan terhadap ketahanan ekonomi nasional. di mana, pertumbuhannya merefleksikan secara merata faktor atau sumber perekonomian,” jelas Mahendra.
Sayangnya penguatan IHSG tak berlangsung lama, indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pekan lalu ditutup melemah sebanyak 39,52 poin (0,50%) menjadi 7.858,85. Sebaliknya pemodal asing jusrtru agresif memborong saham dengan nilai net buy mencapai Rp 2,73 triliun.
Penurunan indeks dipicu atas kejatuhan lima saham big cap pekan ini, seperti DSSA melemah 14,88%, DCII turun 5,53%, BBCA terkoreksi sebanyak 2,87%, TPIA melemah 4,62%, dan BREN turun lebih dari 2,57%. Sedangkan saham penopang indeks dari kejatuhan datang dari kenaikan saham ASII sebanyak 13,43%, EMTK naik 22,51%, UNTR menguat 7,5%, dan BRMS naik 9,63%.
Penurunan tersebut juga dipengaruhi atas penurunan sejumlah sektor utama indeks pekan inii, seperti sektor infrastruktur turun 1,79%, sektor energi melemah 1,04%. Sebaliknya sektor saham dengan kenaikan paling pesat adalah industry menguat 4,68% dan transportasi naik 3,85%.
Pelemahan indeks pekan ini tergolong besar, dibandingkan dengan bursa saham negara Asean lainnya. Di antaranya, indeks bursa saham Vietnam naik 3,56%, indeks saham bursa Malaysia menguat 1,34%, dan Strait Times Singapura naik 0,53%. Terdalam melanda indeks saham Filipina dengan penurunan 0,54% dan SET indeks Thailand turun 0,48%.

