Eastspring: Fokus ke Saham Sektor Bank & Consumer di 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Eastspring Investments Indonesia, manajer investasi bagian dari grup Prudential plc (UK) di Asia, menilai kondisi pasar saham yang saat ini berada pada level tinggi membuka peluang sekaligus membawa tantangan bagi investor.
Head of Multi Asset Eastspring Investments, Erik Susanto, mengatakan meski secara global pasar modal tengah mengalami penguatan, fundamental ekonomi justru masih menunjukkan sinyal pelemahan.
Baca Juga
Eastspring Luncurkan Reksa Dana Syariah Mixed Asset Fund Gandeng Bareksa
“Dari sisi domestik, fokus utama ada di sektor perbankan karena menjadi motor perekonomian Indonesia. Selain itu sektor consumer juga menarik, mengingat basis ekonomi Indonesia yang domestik, ditopang kebijakan moneter dan fiskal pemerintah,” ujar Erik saat ditemui di Prudential Tower, Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Menurut Erik, data ekonomi terkini mencatat tren yang perlu dicermati. Purchasing Managers Index (PMI) Indonesia sudah empat bulan berturut-turut berada di bawah level 50, menandakan kontraksi. Sementara pertumbuhan kredit atau loan growth berada di level 7,8% yang cenderung melemah.
Ia membandingkan kondisi ini dengan pasar global. “Di Eropa dan Amerika Serikat, seluruh stock market mencetak rekor tertinggi (all-time high/ATH), termasuk Bitcoin ATH dan emas ATH,” jelasnya.
Baca Juga
IHSG Sesi I Rebound 0,49%, Saham ARA Bertaburan Dipimpin ACST
Fenomena tersebut didorong likuiditas global yang berlimpah, meski tidak sepenuhnya ditopang fundamental ekonomi yang kuat. “Pasar dunia saat ini lebih banyak digerakkan rewriting valuasi, bukan fundamentalnya. Karena itu penting untuk menjaga risiko,” tambah Erik.
Ke depan, arah pasar sangat dipengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral. The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan memangkas bunga 2–3 kali pada September, sementara Bank Indonesia (BI) berpeluang melakukan satu kali pemangkasan tahun ini, disusul dua kali lagi tahun depan.
Penurunan suku bunga akan menjadi katalis positif bagi saham dan obligasi. Emiten dengan beban utang akan terbantu dari turunnya biaya pinjaman, mendorong laba. Sementara pasar obligasi akan diuntungkan dari penurunan yield yang diproyeksi bergerak dari 6,4% menjadi 6,2% di akhir tahun.
“Masih ada peluang di pasar, karena itu kami meluncurkan mixed asset fund, yaitu kombinasi equity dan fixed income yang akan diuntungkan dari tren penurunan suku bunga. Namun tetap perlu hati-hati di tengah valuasi saham yang tinggi,” terang Erik.

