Kementerian ESDM Ungkap Rencana Pengembangan Mineral Kritis dan Strategis
JAKARTA, investortrust.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan fokus pengembangan mineral kritis dan mineral strategis ke depan.
"Mineral kritis dan mineral strategis nantinya akan diarahkan kepada tiga industri strategis,” kata Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Bidang Tata Kelola Minerba Kementerian ESDM Irwandy Arif, dikutip dari laman Kementerian ESDM, Selasa (6/2/2024).
Baca Juga
Menteri ESDM Pastikan Target Bauran EBT 23% Berlanjut di 2025
Dipaparkan oleh Irwandy, industri strategis yang pertama adalah terkait dengan kendaraan listrik atau industri baterai untuk mobil dan motor listrik. Pasalnya, ekosistem dari industri tersebut akan akan membutuhkan mineral strategis dan mineral kritis yang sangat banyak.
"Nanti ada pembahasan bagaimana produk tembaga dan emas yang akan dikembangkan setelah seleseainya smelter di Gresik oleh Freeport dan di Nusa Tenggara Barat oleh Amman Mineral, yang akan mengubah produk tembaga kita dari konsentrat tembaga ke katoda tembaga secara keseluruhan dan dari anodanya akan menghasilkan emas," terang dia.
Tidak hanya itu, hal tersebut disebut Irwandy akan menunjang industri strategis yang kedua, yaitu energi solar atau energi matahari, baik baterai maupun panel surya. Industri ini juga membutuhkan kuarsit atau pasir kuarsa yang kualitasnya ditingkatkan, sehingga bisa membentuk komponen-komponen atau ekosistem di dalam industri energi solar.
"Dan ketiga, industri strategis yang menjadi perhatian pemerintah dalam konsumsi mineral strategis dan kritis adalah untuk industri pertahanan dan kesehatan," ungkap Irwandy.
Baca Juga
Marketing Sales Lampaui Target, Segini Potensi Cuan Saham BSD (BSDE)
Adapun untuk mendukung industri strategis tersebut, dia memaparkan, kebijakan pertambangan terkait mineral kritis dan mineral strategis ke depan. Di antaranya dengan peningkatan eksplorasi sumber daya cadangan minerba termasuk potensi logam tanah jarang dan mineral kritis yang memiliki nilai ekonomi dan bermanfaat dalam kebutuhan teknologi di masa depan.
Selanjutnya adalah dengan melakukan kemandirian dan pemenuhan bahan baku industri dari komoditas yang ada di dalam negeri, dan dengan melakukan peningkatan nilai tambah mineral atau hilirisasi.
"Serta dengan menaruh perhatian kepada mineral strategis pada mineral utama, ikutan, dan sisa hasil pengolahan dan/atau pemurnian dan juga mineral kritis," terang Irwandy.

