Tiga Katalis Ini Diyakini Akan Dorong Bitcoin Tembus US$ 122.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin sempat menyentuh harga tertingginya di angka US$ 120.000 pada 23 Juli 2025 lalu, memicu perdebatan di kalangan trader, apakah rekor tertinggi baru masih mungkin dicapai di tahun ini.
Melansir CoinTelegraph, Minggu (10/8/2025), meski dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan kekhawatiran keberlanjutan sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), ada tiga katalis utama yang berpotensi mendorong Bitcoin melampaui level US$ 122.000 di tahun ini.
Pertama, ekspansi suplai uang global yang mencapai rekor tertinggi baru. Data menunjukkan, pasokan uang M2 dari 21 bank sentral terbesar dunia menyentuh US$ 55,5 triliun pada Juli 2025. Di Amerika Serikat (AS), defisit anggaran federal mencapai US$ 1,3 triliun hanya dalam sembilan bulan.
Baca Juga
Kondisi ini menjadi bahan bakar bagi narasi “hard asset” seperti Bitcoin, terlebih di tengah ekspektasi percepatan pencetakan uang untuk menutup utang.
Katalis kedua, yaitu sentimen pasar yang dipicu oleh kenaikan valuasi perusahaan-perusahaan teknologi seperti Nvidia, MicroStrategy (MSTR), dan MetaPlanet (MTPLF). Nvidia misalnya, valuasinya melonjak dari US$ 2,3 triliun pada Maret menjadi US$ 4,4 triliun, meski laba bersih kuartalan stagnan.
Fenomena ini menandakan bahwa metrik valuasi tradisional mulai kehilangan relevansi, yamg bisa membuka jalan bagi aset spekulatif seperti Bitcoin.
Baca Juga
Harvard Berinvestasi di Bitcoin, Investasi Tembus Rp 1,89 Triliun
Katalis terakhir, regulasi baru di AS yang membuka pintu bagi aset kripto dalam program pensiun. Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksklusif yang mengizinkan aset kripto dan aset alternatif lain masuk ke dalam portofolio pensiun tersebut.
CEO 0G Labs Michael Heinrich menyebut kebijakan ini berpotensi “membuka triliunan dolar dana pensiun untuk Bitcoin,” katanya.
Hal senada diungkapkan CIO Bitwise Matt Hougan yang menilai langkah ini bisa menjadi titik balik industri kripto.
Saat ini dana yang dikelola exchange traded fund (ETF) Bitcoin Spot di AS mencapai US$ 150 miliar, mendekati aset ETF emas yang mencapai US$ 198 miliar. Jika posisi tersebut berhasil melampaui emas, Bitcoin berpeluang semakin diakui sebagai aset cadangan, bukan sekadar instrumen spekulatif.
Meski investor ritel belum sepenuhnya terlibat, terlihat dari peringkat aplikasi kripto seperti Coinbase dan Robinhood yang masih di luar 10 besar, para analis memprediksi ruang bagi reli yang dipicu investor ritel masih terbuka lebar pada 2025. Dengan kombinasi katalis tersebut, jalan Bitcoin menuju rekor baru diperkirakan semakin dekat.

