Pengamat: Sekarang Waktu yang Tepat Investasi Emas, Ini Alasannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pengamat komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat bagi masyarakat yang ingin memulai investasi pada logam mulia, khususnya emas. Menurutnya, meskipun harga emas cenderung fluktuatif, kisaran harga saat ini masih berada dalam rentang ideal untuk masuk pasar.
“Artinya apa? Bahwa masyarakat kalau seandainya mereka mau melakukan investasi di logam mulia, ini adalah kesempatannya yang paling tepat,” ujar Ibrahim dalam acara Investortrust Power Talk di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (31/7/2025).
Dalam kesempatan tersebut Ibrahim memperkirakan harga emas akan bergerak dalam rentang Rp1.850.000 hingga Rp2.150.000 per gram. Ia menyoroti bahwa keputusan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25–4,50% pada Kamis dini hari turut memengaruhi pergerakan harga emas global, termasuk di Indonesia.
“Karena tadi malam Bank Sentral Amerika mempertahankan suku bunga, ya kemudian harga emas jatuh. Di Pegadaian itu kalau tidak salah Rp1.900.000. Itu masih ada keuntungan,” jelasnya.
Baca Juga
Bullion Bank, Game Changer Investasi Emas Nasional dan Gaya Hidup Finansial Generasi Muda
Meski demikian, Ibrahim menekankan bahwa investasi emas sebaiknya diposisikan sebagai rencana keuangan jangka panjang. Jika tujuan investasi adalah untuk keuntungan jangka pendek, maka emas bukanlah instrumen yang tepat.
“Tetapi harus diingat bahwa investasi di logam mulia, walaupun emas perhiasan, itu bukan jangka pendek, tetap jangka panjang. Kenapa? Karena kalau jangka pendek, kita pusing, berpikirannya apa? Pinjam uang,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menekankan pentingnya literasi investasi emas, khususnya bagi generasi muda. Hal ini disampaikan oleh Direktur Pengembangan Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Hari Gamawan.
Menurut Hari, meskipun Indonesia merupakan salah satu produsen emas terbesar dunia, konsumsi emas di kalangan masyarakat masih tergolong rendah. “Data yang kami peroleh menunjukkan sekitar 60 juta rumah tangga di Indonesia tidak memiliki emas atau perhiasan,” ungkap Hari dalam diskusi yang sama.
Oleh karena itu, OJK mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai memahami pentingnya investasi emas sebagai bagian dari penguatan ekonomi rumah tangga serta inklusi keuangan nasional melalui ekosistem bank bulion.

