Bullion Bank, Game Changer Investasi Emas Nasional dan Gaya Hidup Finansial Generasi Muda
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — CEO Investortrust, Primus Dorimulu, menegaskan bahwa kehadiran bullion bank bukanlah sekadar inovasi sektor keuangan, melainkan sebuah game changer dalam membangun kedaulatan ekonomi nasional berbasis komoditas strategis, khususnya emas. Dalam diskusi yang digelar di Jakarta, Kamis (31/7/2025), ia menekankan pentingnya lembaga ini sebagai jembatan antara kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan kebutuhan pembiayaan nasional yang berkelanjutan, efisien, serta inklusif.
"Selama ini emas lebih banyak hanya disimpan atau dipakai sebagai perhiasan. Padahal, emas bisa digerakkan sebagai instrumen keuangan produktif. Bullion bank mengubah peran emas menjadi tabungan, instrumen pembiayaan, investasi, hingga aset digital," kata Primus dalam paparannya. Transformasi inilah yang membuat bullion bank menjadi pilar penting bagi ketahanan ekonomi nasional.
Momentum positif ini juga diperkuat oleh saran tokoh investasi dunia, Ray Dalio, pendiri Bridgewater Associates, yang dalam podcast The Master Investor pada 27 Juli 2025 menyarankan alokasi 15% portofolio investasi ke emas dan bitcoin. Ini merupakan peningkatan signifikan dari rekomendasinya di tahun 2022 yang hanya 1–2%. Di Indonesia, lonjakan minat investasi emas semakin nyata sejak Presiden Prabowo Subianto meresmikan PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai bullion bank pada Februari 2025 lalu.
Tujuan dari pendirian bullion bank mencakup lima aspek strategis: memperluas akses investasi emas, mendukung ketahanan keuangan nasional, mendorong hilirisasi industri emas, menyediakan layanan keuangan berbasis emas, serta memperluas infrastruktur pasar emas digital. "Kita ingin emas tidak hanya dilihat sebagai aset kuno, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup keuangan modern, digital, dan keren," ujar Primus.
Bullion bank juga diharapkan mampu mempercepat inklusi keuangan di kalangan generasi muda. Dengan investasi emas mulai dari Rp 10.000 melalui platform digital, generasi Z dan milenial—yang jumlahnya lebih dari 86 juta jiwa—didorong untuk menjadikan emas sebagai bagian dari gaya hidup finansial cerdas. Emas digital dapat dibeli, disimpan, bahkan diperdagangkan secara efisien di ekosistem digital yang terhubung dengan fintech, e-commerce, hingga decentralized finance (DeFi).
Baca Juga
Terobosan Bank Emas Pegadaian, Salurkan Pinjaman Modal Kerja Emas ke Lotus Lingga Pratama
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun telah menerbitkan kerangka regulasi melalui POJK 17/2024 untuk mendukung kegiatan usaha bulion secara resmi. Lembaga jasa keuangan yang memenuhi syarat dapat melakukan simpanan emas, pembiayaan emas, perdagangan emas, penitipan, dan aktivitas terkait lainnya. Ini membuka peluang besar bagi integrasi sistem keuangan syariah dengan emas sebagai underlying asset.
Potensi bullion bank sangat besar mengingat Indonesia adalah produsen emas terbesar ke-10 dunia, tetapi hanya berada di peringkat 40 dari sisi cadangan devisa berbasis emas. Dengan monetisasi emas yang lebih optimal melalui bullion bank, Indonesia dapat memperkuat posisi ekonominya di pasar global, mengurangi ketergantungan pada impor emas, dan memperbesar cadangan devisa nasional.
Bullion bank juga berperan dalam mendukung program hilirisasi. Dengan memperkuat rantai pasok dari hulu ke hilir—mulai dari tambang, pemurnian, hingga ritel—Indonesia dapat memperoleh nilai tambah lebih tinggi dari emas yang diproduksi. Hal ini memperdalam pasar keuangan domestik dan menyediakan sumber pembiayaan bagi sektor riil.
Menutup paparannya, Primus Dorimulu menyerukan agar seluruh pelaku industri—baik pemerintah, swasta, maupun komunitas keuangan digital—bersinergi dalam menjadikan bullion bank sebagai gerakan nasional. "Ini bukan hanya tentang institusi. Ini tentang menginspirasi generasi muda menjadi investor cerdas, berdaya saing global, dan membangun masa depan ekonomi Indonesia yang lebih keren, lebih muda, dan pastinya: lebih cuan," ujarnya.

