Upbit Optimistis Hadapi Semester II 2025, Fokus pada Pasar Institusi dan Literasi Kripto
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Meski tren transaksi kripto cenderung menurun memasuki semester II, Upbit Indonesia tetap memandang prospek pasar kripto secara positif. Dukungan dari segmen institusi, regulasi, dan dorongan literasi diyakini bisa menjadi kunci pertumbuhan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Chief Operating Officer (COO) PT Upbit Exchange Indonesia (Upbit Indonesia) Resna Raniadi menjelaskan bahwa semester I 2025 sempat diwarnai fluktuasi tajam akibat faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan sentimen terhadap aset digital secara global. Setelah sempat mencatat lonjakan transaksi pada semester I, pasar kripto kembali normal menjelang pertengahan tahun. Hal ini ditandai dengan menurunnya volume transaksi bulanan, meski jumlah pengguna tetap stabil.
"Kalau lihat pasar emang saya sendiri di semester II ini agak lesu. Ada beberapa panic sell setelah aset digital sempat goyang akibat isu-isu seperti kebijakan The Fed, data ekonomi AS, dan lainnya. Tapi kalau dari sisi institusi, ada banyak hal yang membuat kami tetap optimistis,” ujar Resna kepada Investortrust, di kantor Upbit, Jakarta, baru-baru ini.
Ia menyebutkan bahwa perubahan perilaku pengguna, dari ritel ke institusi, semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir. “Upbit dari nasabah institusi masih kecil baru 2% tapi nilai transaksi besar," ujarnya.
Baca Juga
Upbit Indonesia Dukung PP 28/2025, Langkah Strategis untuk Masa Depan Blockchain Indonesia
Hingga pertengahan tahun ini, volume transaksi bulanan Upbit tercatat sekitar Rp 300 miliar, dengan total nasabah mencapai 1 juta. Sementara sejak berdiri hingga saat ini nilai transaksinya bila diakumulasi sudah mencapai Rp 60 triliun atau rata-rata Rp 8-9 triliun per tahunnya. Adapun, untuk tahun ini Upbit menargetkan pertumbuhan transaksi sebesar 10%.
“Kami tidak hanya fokus ke ritel, tapi juga memperkuat sisi institusi dan edukasi publik. Kalau semua berjalan baik, target 10% sampai akhir tahun masih realistis,” ujarnya seraya menambahkan besarnya pasar Korea di Indonesia juga mendorong pencapaian target tersebut.
Upbit juga melihat pentingnya perbaikan dari sisi regulasi dan edukasi. Resna berharap literasi publik terhadap aset digital bisa terus ditingkatkan, agar pertumbuhan industri tidak hanya bergantung pada momentum harga. “Kita juga harus terus dorong literasi. Masih banyak yang tertarik tapi belum paham,” ucapnya.
Upbit seperti diketahui adalah bursa kripto terbesar di Korea Selatan yang kemudian berekspansi ke Indonesia dan resmi beroperasi di sini sejak 2019. Upbit Indonesia secara resmi mulai beroperasi di Indonesia pada Januari 2019 lalu. Besarnya animo investor Indonesia akan kripto dan tingginya peluang tumbuh kembang ekosistem blockchain menjadikan Indonesia terpilih menjadi negara ketiga lokasi peluncuran Upbit setelah Korea Selatan dan Singapura. Berlanjut, Upbit saat ini tersedia di Korea Selatan, Singapura, Indonesia dan Thailand.
Dari empat negara tersebut, selain di Korea, transaksi terbesar Upbit saat ini disalip oleh Thailand. Padahal saat Covid, Indonesia memegang nilai transaksi tertinggi.
“Kalau di luar Korea itu yang terbesar itu transaksinya Thailand, Indonesia, baru Singapura. Thailand sekarang justru naik karena aturan dan pajaknya lebih pro pengguna. Kalau Singapura lebih ketat,” tuturnya.
Baca Juga
Tak Hanya Tokocrypto dan Upbit, Exchange Kripto di Indonesia Ini Juga Punya Afiliasi dengan Global
Genjot Literasi
Industri aset kripto di Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat dan menjanjikan. Hingga Juni 2025, jumlah konsumen yang terdaftar di platform perdagangan aset kripto mencapai 15,85 juta orang. Sedangkan aset kripto yang diperdagangkan mencapai 1.153. Fenomena ini menunjukkan bahwa aset digital semakin diterima sebagai bagian dari portofolio investasi masyarakat.
Resna menyampaikan bahwa peningkatan literasi dan kesadaran pengguna adalah kunci utama untuk menjaga ekosistem kripto tetap sehat.
“Kami melihat pertumbuhan pasar kripto sebagai peluang besar bagi ekonomi digital Indonesia. Namun, pertumbuhan ini harus diiringi dengan edukasi yang kuat agar masyarakat dapat berpartisipasi secara aman dan bertanggung jawab,” katanya.
Upbit Indonesia mengidentifikasi beberapa bentuk penipuan yang paling sering terjadi, di antaranya adalah phishing yang memancing pengguna untuk mengklik tautan palsu dan mencuri data pribadi, aplikasi investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan fantastis namun akhirnya membawa kabur dana pengguna, hingga penipuan dengan menyamar sebagai pihak terpercaya.
Untuk menghindari hal-hal tersebut, pengguna disarankan untuk selalu menggunakan platform yang telah terdaftar dan diawasi resmi di Otoritas Jasa Keuangan, seperti Upbit Indonesia, agar transaksi dilakukan dalam ekosistem yang diawasi.
Pastikan untuk tidak mudah percaya terhadap pesan atau telepon yang mengatasnamakan pihak tertentu, apalagi jika meminta data pribadi, password, atau kode OTP di mana hal ini tidak pernah dilakukan oleh pihak resmi Upbit.
Selain itu, penting juga untuk melakukan riset mandiri (DYOR) sebelum berinvestasi pada aset atau proyek kripto tertentu, dan jangan mudah tergiur oleh janji keuntungan cepat. Selain itu, pengguna dianjurkan untuk mengaktifkan fitur keamanan tambahan seperti autentikasi dua faktor (2FA) dan memperbarui kata sandi secara berkala.

