Didukung Dua Hal Ini, Laba Maybank Indonesia Naik 348% di Semester I 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) mencatat kinerja signifikan pada semester I 2025. Laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) melesat 348,1% secara year on year (yoy) menjadi Rp 576 miliar, sementara laba sebelum pajak (PBT) tumbuh 170,4% (yoy) menjadi Rp 766 miliar.
“Peningkatan PBT dan PATAMI tersebut didukung oleh laba operasional yang membaik, serta biaya provisi yang turun signifikan,” ujar manajemen Maybank Indonesia, dalam keterangan pers, Rabu (30/7/2025).
Manajemen menjelaskan, laba operasional sebelum provisi (pre-provisioning operating income) meningkat 2,8% (yoy) menjadi Rp 1,24 triliun per Juni 2025. Sementara, biaya provisi turun 46,2% pasca pencadangan pre-emptive tahun sebelumnya.
Baca Juga
Di tengah berbagai tantangan, lanjut manajemen, Maybank Indonesia tetap fokus memperkuat portofolio kredit pada segmen-segmen utama, seperti segmen usaha kecil menengah (UKM), korporasi lokal skala besar, dan ritel.
Untuk kredit ritel di segmen community financial services (CFS) tumbuh 9,2% (yoy) menjadi Rp 84,51 triliun. Pertumbuhan terbesar terjadi di segmen non ritel CFS yang naik 12,1% menjadi Rp 37,5 triliun, termasuk kredit komersial (business banking) yang meningkat 17,5%, kredit SME+ sebesar 10%, dan ritel SME (RSME) sebesar 8,1%.
Lalu, kredit ritel CFS mencatatkan kenaikan 7% menjadi Rp 47,01 triliun, ditopang oleh pertumbuhan kredit otomotif anak perusahaan sebesar 9%, kredit pemilikan rumah (KPR) 4,4%, dan kredit konsumer (kartu kredit dan KTA) sebesar 6,3%.
Baca Juga
Menuju Netralitas Karbon, Maybank Marathon 2025 Ajak Para Pelari Dukung Upaya Berkelanjutan
Sementara itu, segmen Large Local Corporates dari unit Global Banking (GB) naik signifikan sebesar 31,5% menjadi Rp 13,85 triliun. Meski begitu, secara keseluruhan kredit GB turun 18,5% akibat penurunan portofolio pinjaman berbunga rendah (low yielding corporate loans) sebesar 34,4%.
”Bank menempuh upaya rebalancing terhadap portofolio kreditnya, sehingga total kredit turun tipis sebesar 1,1% (yoy) menjadi Rp 121,69 triliun oleh karena kredit korporasi yang menurun meski telah diimbangi oleh kinerja positif dari kredit ritel dan non ritel CFS,” kata manajemen.
Dana pihak ketiga (DPK) tetap stabil sebesar Rp 114,70 triliun, dengan rasio dana murah atau current account and saving account (CASA) meningkat menjadi 56,2% pada Juni 2025, dari sebelumnya 51,3% di periode yang sama 2024.
“Kualitas aset menguat, dengan rasio non performing loan (NPL) membaik sebesar 2,4% (gross) dan 1,5% net pada Juni 2025,” tulis manajemen.

