Harga Emas Diprediksi Tembus US$ 3.600 Sebelum Akhir 2025, Berikut Faktor Pendorongnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga emas dunia dipercaya akan tembus US$ 3.600 per troy ons sebelum akhir tahun 2025. Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, target ini bisa tercapai bila sejumlah katalis terealisasi.
Dia optimistis prediksi tersebut akan terbukti, meski pada perdagangan Jumat (25/7/2025) di pasar spot pada pukul 5.43 WIB, harga emas diperdagangkan turun tipis ke level US$ 3.366 per troy ons.
“Ini justru kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan pembelian karena saya masih optimistis, harga emas dunia akan tembus US$ 3.600 (per troy ons) di tahun 2025. Kemudian seandainya rupiah kembali ke Rp 16.800 (per dolar AS), bisa saja harga logam mulia ini akan tembus lagi di atas Rp 2 juta per gram,” ucap Ibrahim, dalam wawancara eksklusif dengan Investortrust di The Convergence Indonesia, Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.
Dengan begitu, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka ini turut menegaskan bahwa investasi emas masih amat menguntungkan. Apalagi menurutnya, harga emas tengah memasuki momen kenaikan lagi.
Optimisme Ibrahim dilatarbelakangi tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa yang masih meningkat karena Israel masih melakukan penyerangan di jalur Gaza, bahkan Suriah. Sementara Iran, tetap menegaskan keberaniannya untuk membalas Israel bila kembali diserang.
“Iran juga terus melakukan pengayaan uranium yang ditakutkan oleh Israel maupun Amerika. Sehingga ketegangan di Timur Tengah ini akan terus naik tensinya,” kata Ibrahim.
Baca Juga
Menabung di Bullion Bank Dipercaya Sebagai Alternatif Investasi Paling Bagus
Di sisi lain, Iran merupakan salah satu negara produsen minyak mentah terbesar di dunia, yang sebagian besar diekspor. Konflik dengan Israel pun membuat harga minyak mentah (crude) melambung tinggi, dari terganggunya suplai ekspor minyak Iran.
Harga minyak mentah yang paling sensitif terhadap pasokan crude dari Iran adalah Brent. Minyak mentah yang menggunakan patokan harga Brent, umumnya dipakai untuk avtur sebagai bahan bakar pesawat hingga roket.
Ibrahim mengatakan, minyak mentah tersebut diminati oleh China yang sedang mengembangkan teknolog untuk militernya. Sehingga bila Iran terkena sanksi ekonomi oleh Amerika, kemungkinan besar China tidak akan mendapatkan impor minyak dari Iran dan menimbulkan ketidakpastian global yang lebih besar lagi.
“Nah ini yang ketakutan-ketakutannya cukup luar biasa, sehingga harga emas sebelumnya mengalami kenaikan,” imbuh dia.
Baca Juga
Harga Emas Meroket ke Level Tertinggi 5 Minggu di Tengah Drama Tarif AS
Permasalahan global kemudian dilengkapi dengan perang dagang. Pada 1 Agustus 2025, tarif Trump untuk negara-negara pemasok akan diterapkan. Hal ini diprediksi akan meningkatkan inflasi.
“Berarti harga logam mulia pasti akan naik karena selalu di atas inflasi,” sambungnya.
Belum lagi, terdapat spekulasi bahwa Jerome Powell akan turun dari jabatan ketua bank sentral Amerika, The Federal Reserve (The Fed) karena tak kunjung menurunkan suku bunga acuan.
“Saat pemerintahan Trump, kemudian anggota dewan kongres akan melakukan pemecatan terhadap Powell, yang terjadi apa? Yang terjadi harga emas akan naik,” menurut Ibrahim.
Dia memandang, harga emas yang semakin mendekati US$ 3.500 per troy ons, dapat lebih cepat mengantarkan logam mulia ini ke harga US$ 3.600 per troy ons, bahkan sebelum akhir 2025. Hal ini didukung oleh jadwal penerapan tarif Trump pada 1 Agustus 2025.
Perang tarif dagang Amerika dengan 150 negara lain pun dipercaya mampu mengerek harga emas ke US$ 3.500 per troy ons pada Agustus mendatang. Bila level ini sudah tercapai, Ibrahim semakin yakin dengan prediksi harga emas yang dapat menyentuh US$ 3.600 per troy ons tersebut.
“Kemungkinan besar pada kuartal ketiga atau bulan pertama kuartal keempat akan menyentuh level US$ 3.600 (per troy ons), apabila benar-benar ya, seandainya Power dipecat Trump, harga emas luar biasa,” pungkasnya.

