Menabung di Bullion Bank Dipercaya Sebagai Alternatif Investasi Paling Bagus
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Menabung di bank emas atau bullion bank dipercaya sebagai alternatif investasi paling bagus. Hal ini didukung ekosistem bullion bank Indonesia yang dinilai sudah lengkap dan lebih menguntungkan dibanding instrumen investasi jangka panjang lainnya.
“Bullion bank saat ini adalah alternatif investasi paling bagus di zaman teknologi,” ujar analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi dalam podcast Konvergensi Investortrust, Rabu (23/7/2025).
Dia mengilustrasikan bahwa masyarakat yang memerlukan pinjaman uang dengan gadai emas pun, akan mendapat harga emas yang setara saat agunan emas tersebut ditebus. Misalnya harga satu kilogram emas yang saat ini di kisaran Rp 1,8 miliar, Ibrahim sebut dalam tiga tahun ke depan pun bisa dimiliki lagi oleh nasabah dengan nilai yang tidak berkurang.
Baca Juga
Bullion Bank Fuels Hartadinata’s Record Profit Surge in Q1 2025
“Kenapa logam mulia itu pada saat kita mau pinjam dana, kemudian menjamin logam mulia dengan mendapatkan 100% (dana kembali)? Bank itu harus membuat satu perencanaan minimal tiga tahun, masyarakat ini yang mau pinjam dana dengan jaminan emas itu, mendapatkan dana 100% harga logam mulia,” jelas Ibrahim.
Pasalnya, dalam 1-3 tahun ke depan harga logam mulia akan cenderung naik, misalnya dari Rp 1,8 juta per gram menjadi Rp 2,5 juta. Dengan begitu, bullion bank sebenarnya telah mendapat keuntungan dari selisih harga tersebut.
Tidak hanya bagi bullion bank, ujar Ibrahim, nasabah yang meminjam uang pun turut diuntungkan dengan pergerakan harga emas dalam rentang waktu 3-5 tahun tersebut.
Ibrahim pun membandingkan menabung uang di bank sebesar Rp 100 juta yang akan tergerus tiap bulan karena biaya administrasi hingga pajak.
“Saya punya tabungan, saya punya deposito, rupanya pada saat kita menabung, setiap bulan uang kita itu berkurang. Meski ada bunga, tapi ada biaya administrasi dan pajaknya, belum lagi inflasi,” ujar dia.
Setelah itu, baru diketahui bahwa emas lebih menguntungkan dalam jangka panjang dibandingkan tabungan dan deposito. Meski deposito juga memberikan bunga yang cenderung lebih baik dibandingkan tabungan, namun keuntungannya dinilai lebih sedikit dibanding emas.
“Setelah ada bullion bank, saya kira masyarakat harus lebih berpikir jernih lagi bahwa inilah kesempatan terbaik bagi masyarakat untuk mengalihkan dananya dari tabungan konvensional berubah ke bullion bank. Karena saat menabung nanti dicatat dalam pembukuan, itu dengan menggunakan gram. Mulai dari Rp 100.000 juga boleh, nanti dikonversi jadi gram,” papar Ibrahim.
Terbukti, masyarakat juga terlihat sudah memanfaatkan fasilitas bullion bank dengan jumlah emas yang disimpan dalam bank, mencapai 20 ton per 31 Mei 2025. Kementerian Koordinator bidang Perekonomian sempat mengungkap perkembangan produk dan layanan emas di Pegadaian hingga 31 Mei 2025.
Baca Juga
Fasilitas gadai dan cicil memiliki nilai outstanding mencapai Rp 74,11 triliun atau meningkat Rp 2 triliun dari awal 2025. Kemudian fasilitas tabungan emas sudah mencapai 13,2 ton emas, meningkat 2,9 ton dari awal tahun.
Begitu pun dengan fasilitas deposito emas yang naik 1,1 ton menjadi 1.248 ton, titipan emas korporasi yang naik 2 ton hingga kini menjadi 2,9 ton, serta pinjaman modal kerja emas sudah mencapai Rp 408,85 miliar atau 250 kg sejak diresmikan 26 Februari 2025 lalu.

