Dorong Ekonomi Semester II-2025, Pemerintah Perlu Genjot Belanja Fiskal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Schroders Indonesia mengungkapkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester II-2025, di tengah lemahnya Produk Domestik Bruto (PDB) dan pertumbuhan laba korporasi yang terbatas.
"Sentimen investor terhadap ekuitas Indonesia kembali tertekan pada Juni 2025 karena permintaan domestik yang lemah dan prospek pendapatan perusahaan yang suram," kata Rizky Hidayat, Investment Specialist Schroders Indonesia dalam keterangannya, dikutip Senin (21/7/2025).
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melesat 0,87%, Lima Saham Dipimpin CDIA ARA
Menurut Rizky, peningkatan belanja pemerintah menjadi kunci utama untuk mendongkrak konsumsi masyarakat dan memulihkan daya beli. Dukungan fiskal tersebut dinilai krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di paruh kedua 2025.
“Pemulihan permintaan domestik sangat penting bagi pasar saham saat ini karena pelaku usaha menunjukkan daya beli yang masih tertekan pada kuartal II-2025,” ujarnya.
Ia juga menyoroti risiko sistemik terhadap sektor perbankan. Melemahnya kinerja bisnis berpotensi memicu penurunan kualitas aset bank dan memperburuk tekanan terhadap pendapatan sektor keuangan.
Baca Juga
Wamentan Sebut Ekspor Pertanian Capai Rp 1,3 Miliar, Ubi dan Sayur Hasilkan Cuan Besar
Investor kini memantau ketat kebijakan pemerintah, khususnya dalam kaitannya dengan peran Danantara (SWF Indonesia) dan BUMN. Rencana suntikan dana ke sejumlah perusahaan melalui SWF akan menjadi katalis penting bagi pasar.
Di sisi global, Rizky menyebutkan bahwa ketidakpastian seputar kebijakan tarif AS di bawah Donald Trump turut menjadi perhatian. "Meski dampak langsung terhadap Indonesia masih terbatas, efek tidak langsung dari negosiasi tarif global perlu diantisipasi," imbuhnya.
Meski ekonomi AS masih tangguh, nilai tukar dolar AS melemah, di tengah rencana Trump mengganti Jerome Powell sebagai Ketua The Fed tahun depan. Ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed pun masih tertahan. “Penurunan suku bunga The Fed kemungkinan baru terjadi pada 2026, namun tetap menjadi katalis positif untuk pasar global, meski dibayangi risiko inflasi dan sikap hawkish The Fed saat ini,” tutup Rizky.

