Gelar Market Outlook Second Half 2025, BRI Danareksa Sekuritas Minta Investor Cekatan Tangkap Peluang
JAKARTA, investortrust.id – Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan pertumbuhan ekonomi berbagai negara utama dunia diperkirakan masih memengaruhi dinamikan pasar keuangan Indonesia pada paruh kedua tahun ini. Sedangkan dari dalam negeri munculkan harapan pemulihan pasar yang sehat. Dengan kondisi ini, investor dituntut untuk lebih cekatan dalam menganalisa dan menangkap peluang yang ada.
Demikian rangkuman acaraMarketOutlook Second Half 2025 bertajuk “Unlocking Trends, Timing Your Trades” yang digelar BRI DanareksaSekuritas (“BRIDS”) di Jakarta, beberapa hari lalu. Market outlook ini menghadirkan pembicara-pembicara ahli dan kompeten di bidangnya, mulai dari ahli ekonomi dan sektoral, emiten darisektor yang sedang hangat diperbincangkan, hingga profesional trader. Acara yang digelar di Main Hall Bursa Efek Indonesia(BEI), Jakarta, tersebut dihadiri ratusan peserta yang terdiri atas nasabah BRIDS, komunitas, dan mahasiswa.
Baca Juga
Head of Equity Research BRIDS Erindra Krisnawan menyampaikan bahwa meskipun ekonomi global masih menunjukkan perlambatan, kondisi domestik Indonesia memberi harapan akan pemulihan pasar yang sehat. “Meski ekonomi global masih melambat, tapi diikuti dengan stabilitas ekonomi dalam negeri yang masih baik. Selain itu, valuasi pasar saham Indonesia tergolong rendah, sehingga menjadi peluang menarik bagi investor jangka menengah. Prospek pemulihan ditopang oleh BI rate yang lebih bersahabat, serta akselerasi belanja negara. Sektor yang kami soroti antara lain konsumer dan telekomunikasi,” papar Erindra.
Melengkapi pandangan makro tersebut, Ronald A. Hutagalung, Manager Investor Relations dari Pertamina Geothermal Energy (PGEO) mengatakan, perspektif dari sektor strategis, khususnya energi terbarukan, yang kini menjadi fokus transisi nasional yang menyoroti besarnya potensi energi terbarukan di Indonesia, khususnya panas bumi, sebagai penggerak transisi energi nasional.
“Dengan dukungan kebijakan nasional dan pembangunan infrastruktur seperti Supergrid, kami di PGE berkomitmen menjadi penggerak utama transisi energi bersih. Kami menargetkan kapasitas terpasang hingga 1,7 GW pada 2033 serta mendorong investasi pada pengembangan produk turunan panas bumi dan industrialisasi komponen pendukung pembangkit. Kinerja kami pun solid, dengan EBITDA margin berkisar 80% dan availability faktor mendekati 100%” jelas Ronald.
Baca Juga
Investor Asing Lanjutkan Net Sell Saham Rp 326,14 Miliar, Meski IHSG Ditutup Melesat 0,61%
Kemudian, Dari sisi teknikal, Om Ben, Professional Trader & Stock Enthusiast, menutup sesi outlook dengan membagikan strategi praktis yang dapat diterapkan investor ritel untuk menghadapi dinamika pasar yang penuh tantangan.
“Trading bukan soal cuan besar sesaat, tapi soal konsistensi dan disiplin. Di semester dua ini, siapkan strategi yang jelas, risk management yang ketat, dan mental yang sabar. Fokus pada saham-saham IPO dan strategi swing trading berbasis support-resistance. Jangan FOMO, evaluasi rutin, dan hindari overtrade. Momentum tetap ada, apalagi dengan banyaknya saham big cap yang sedang terdiskon dan aksi korporasi menarik,” papar Om Ben.
Komitmen BRIDS
Sementara itu, Direktur Treasury & International Banking BRI, Farida Thamrin, mengungkapkan bahwa acara Market Outlook Second Half 2025 merupakan bukti nyata komitmen BRIDS dalam memperkuat keuangan dan mendukung pertumbuhan akses pasar modal di masyarakat.
Baca Juga
BRI Danareksa Sekuritas: IHSG Optimistis Capai 7.300 Tahun 2025 dengan Unggulan Dua Sektor Ini
“Pertumbuhan kinerja bisnis ritel BRIDS tercatat bertumbuh selama 45% selama semester I-2025, meskipun di tengah tantangan geopolitik. Hal ini juga didukung dengan adanya pengembangan BRIGHTS EASY yang memudahkan nasabah bertansaksi saham, obligasi, reksa dana dan EBA Ritel dalam satu kemudahan. Kami berharap acara ini dapat memberikan banyak manfaat untuk melangkah lebih yakin di tahun 2025,” ungkap Farida.
Senada dengan Farida, Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, mengungkan bahwa investor ritel di tengah ketidakpastian global sangat diperlukan. “Investor ritel berkontribusi dalam penyerapan 90% saham yang dijual investor asing. Jadi ritel kita yang besar dan kuat akan menjadi fondasi yang sangat baik bagi pertumbuhan pasar modal kita ke depan,” jelas Jeffrey.

