Saham Bank BUMN Terkoreksi Tajam, Analis: Momentum Emas untuk Value Investing
JAKARTA, investortrust.id – Saham sektor perbankan Tanah Air mendadak turun signifikan di tengah sentimen global yang tidak kondusif pada pada penurupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, (14/7/2025). Penurunan paling dalam dicatatkan saham bank BUMN atau pelat merah yang disertai dengan aksi jual (net sell) jumbo oleh pemodal asing.
Berdasarkan data BEI, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun paling dalam, yaitu 5,43% ke level Rp 4.700 per saham. Koreksi ini diikuti oleh saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan penurunan mencapai 4,07% ke Rp 3.980, dan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah hingga 3,09% ke level Rp 3.780.
Sedangkan saham bank dengan torehan net sell terbesar sepanjang hari ini dicatatkan BMRI mencapai Rp 1,28 triliun, BBCA mengalami net sell hingga Rp 344,71 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan net sell Rp 94,93 miliar.
Baca Juga
Saham Perbankan Sesi I Hari Ini Mendadak Anjlok Dipimpin BMRI, Ada Apa?
Penurunan ini tak terjadi dalam sehari saja, melainkan mencerminkan tren tekanan dalam sebulan terakhir. Bahkan, secara bulanan, saham BBNI menjadi saham bank BUMN paling terpukul dengan penurunan mencapai 11,67%, diikuti BMRI 8,54%, dan BBRI 5,75%.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana melihat bahwa di balik koreksi ini tersimpan peluang yang besar bagi investor jangka menengah hingga panjang.
“Tekanan harga yang dalam tersebut justru membuat valuasi saham bank BUMN semakin murah, sehingga menawarkan ruang pemulihan yang menarik ke depan,” kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Senin, (14/7/2025).
Mengacu data per 14 Juli 2025, seluruh saham bank BUMN diperdagangkan di bawah rata-rata valuasi Price to Book Value (PBV) dalam lima tahun. Misalnya, saham BBNI diperdagangkan dengan PBV 0,89 kali, jauh di bawah rerata historisnya 1,14 kali, sehingga ada diskon sebesar 21,93%.
Begitu juga dengan saham BBRI yang selama ini dikenal sebagai bank basis mikro yang kuat mengalami tekanan dengan valuasi PBV hanya 1,91 kali, dibandingkan rerata 5 tahun sebesar 2,48 kali atau diskon 22,98%. Sedangkan BMRI diperdagangkan pada PBV 1,73 kali, lebih rendah 12,18% dari rata-rata 5 tahunnya di 1,97 kali.
“Kondisi ini menjadikan ketiga saham tersebut berada dalam posisi undervalued, yang secara historis seringkali menjadi momentum terbaik untuk masuk bagi investor yang fokus pada value investing,” jelas dia.
Fundamental Saham
Dari sisi fundamental, Hendra menyatakan tekanan terhadap sektor perbankan tidak lepas dari berbagai tantangan makroekonomi yang berlangsung sepanjang tahun 2025. Hingga kini, The Fed masih mempertahankan suku bunga tinggi di kisaran 4,25%–4,50% dengan probabilitas 94,8% untuk tetap bertahan pada pertemuan Juli 2025.
“Ini terjadi di tengah proyeksi inflasi AS yang kembali naik baik dari sisi konsumen maupun produsen dan ekspektasi pemulihan ekonomi yang belum stabil,” terang dia.
Baca Juga
Selain JP Morgan, BlackRock dan Vanguard Juga Tambah Kepemilikan Saham BRI (BBRI)
Dari sisi domestik, sektor perbankan menghadapi ketidakpastian dari sisi penyaluran kredit, mengingat tekanan global memaksa banyak bank untuk bersikap lebih hati-hati dalam ekspansi pembiayaan.
Tak hanya itu, kekhawatiran terhadap kebijakan proteksionisme seperti tarif Trump dan potensi pelemahan daya beli juga membayangi outlook ekonomi Indonesia, sehingga menekan laju pertumbuhan kinerja bank, khususnya dalam hal pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) tahun buku 2025.
Meskipun EPS bank tahun ini diprediksi melambat, namun potensi dividen yield yang ditawarkan oleh bank-bank pelat merah masih relatif atraktif, dibandingkan dengan level dividen tahun 2023.
“Investor jangka panjang yang fokus pada cashflow tetap dapat mempertimbangkan dividen sebagai insentif menarik, mengingat secara historis BMRI, BBRI, dan BBNI konsisten menjaga dividend payout ratio di atas rata-rata sektor,” ungkap Hendra.
Strategi Teknikal
Secara teknikal, Hendra mengimbau investor untuk mempertimbangkan strategi buy on weakness pada level kunci masing-masing saham.
Baca Juga
Dahsyat! Saham Grup Barito Melonjak, Prajogo Pangestu Panen Cuan Rp 73 Triliun dalam Sehari
Ia merekomendasikan saham BMRI untuk dibeli saat melemah di kisaran Rp 4.500, dengan target harga jangka menengah di Rp 5.200. Untuk BBRI, level beli yang ideal berada di Rp 3.780 dengan target penguatan ke Rp 4.000. Saham BBNI juga menunjukkan potensi teknikal dengan level entry di Rp 3.980 dan target menuju Rp 4.250.
Di luar bank BUMN, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebagai bank swasta terbesar masih menarik dikoleksi saat melemah ke Rp 8.400, dengan target resistance jangka menengah di Rp 9.000.

