Saham di Asia Tetap Menarik, Manulife Rekomendasi Sektor Perusahaan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Manulife Investment Management meyakini bahwa saham-saham di Asia, punya kekuatan struktural di tengah gejolak kebijakan tarif Trump.
Charlie Dutton, Head of Emerging Market Equities mengaku tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang saham-saham di Asia, terlepas dari volatilitas global saat ini. Dia menyebut, ada pendorong struktural yang kuat dan peluang-peluang dengan tingkat keyakinan tinggi di seluruh kawasan.
Ia melihat adanya dorongan kuat tematik terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), konsumsi, dan layanan kesehatan, di samping tren makro seperti disinflasi kawasan, sikap dovish bank sentral, dan mesin pertumbuhan yang terdiversifikasi di China, India, dan ASEAN.
Dutton mengatakan, fokus di daratan utama China telah bergeser ke arah transformasi struktural. Ini mencakup percepatan AI lokal, peningkatan belanja fiskal hingga 4% dari PDB, dan perluasan hubungan perdagangan dengan ASEAN.
“Meskipun fokus judul berita lebih sering menyoroti ketegangan perdagangan, cerita sebenarnya terletak pada upaya China untuk mencapai swasembada teknologi, inovasi layanan kesehatan, dan konsumsi domestik,” jelas Dutton dalam analisis yang dikutip pada Sabtu (12/7/2025).
Sedangkan untuk wilayah Taiwan, peluangnya berkisar dari rantai pasokan server AI, peningkatan lanjutan telepon pintar generasi baru, hingga infrastruktur jaringan 800G.
Baca Juga
IHSG Rebound Perkasa 2,65% Pekan Ini, Ini Faktor Penopang Utamanya
“Meskipun risiko ekspor tetap menjadi perhatian, pasar ini terus menarik dana global, terutama dalam desain chip dan co-packaged optics (integrasi komponen optik dan elektronik)," sambung dia.
Sementara, India terlihat menonjol karena demografinya yang mendukung dan eksekusi kebijakan yang efektif. Dutton memandang, pemotongan pajak individu, meningkatkan konsumsi.
Kemudian dengan eksposur perdagangan yang terbatas, di mana ekspor ke AS hanya berkontribusi terhadap 2% PDB, India relatif terisolasi dari guncangan tarif.
Dutton juga menyoroti daya tarik ASEAN yang terus meningkat. Menurutnya, negara-negara seperti Indonesia, Thailand, dan Malaysia dinilai diuntungkan oleh inflasi yang lebih rendah, penurunan suku bunga, dan penataan ulang rantai pasokan.
“Dengan populasi yang muda, infrastruktur yang membaik, dan momentum reformasi, ASEAN menarik investasi asing dan mendorong permintaan domestik. Kami melihat potensi yang kuat pada perusahaan-perusahaan yang sejalan dengan peningkatan konsumsi, inklusi digital, dan integrasi regional," pungkasnya.

