IPO “Oversubcribed” 180 Kali, Indokripto (COIN) Optimistis Indonesia Bisa Jadi Hub Kripto Asia Tenggara
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Di tengah ketidakpastian situasi global, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten ke-18 tahun ini. Keputusan untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) ini disebut sebagai upaya membangun transparansi dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap industri aset kripto di Indonesia.
“IPO ini kami lakukan agar masyarakat dapat ikut mengawasi, menciptakan ekosistem pedagang kripto yang akuntabel. Ini akan meningkatkan rasa aman dalam perdagangan aset kripto di Indonesia,” ujar Direktur Utama PT Indokripto Koin Semesta Tbk Ade Wahyu dalam konferensi pers di main hall BEI, Jakarta, Selasa (9/7/2025).
Meski kondisi global dinilai belum stabil, minat investor terhadap saham COIN dinilai sangat tinggi. Tercatat, saham COIN mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga lebih dari 180 kali dengan total pemesanan lebih dari 200.000 calon investor.
Dengan kode saham COIN, perseroan menorehkan sejarah sebagai ekosistem Bursa Aset Kripto pertama di dunia yang sahamnya diperdagangkan di pasar modal Indonesia.
Adapun pada perdagangan perdananya, harga saham COIN melejit ke harga Rp 135 per saham alias sentuh auto reject atas (ARA). Di mana, COIN mematok harga penawaran Rp 100 per saham.
Direktur Marketing & Business Development PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) Adri Martowardojo, menilai lonjakan permintaan saham COIN menunjukkan bahwa aset kripto sebagai kelas aset baru telah diterima masyarakat luas. Ia juga menyoroti posisi strategis Indonesia dalam regulasi dan iklim investasi kripto di kawasan Asia Tenggara.
“Dengan tarif pajak transaksi kripto hanya 0,21% per transaksi, jauh lebih rendah dibanding Singapura yang mencapai 22%, Indonesia bisa jadi pusat perdagangan kripto regional,” ucapnya.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melesat 0,40%, Tiga Saham Pendatang Baru Dipimpin COIN Terbang
Ia membandingkan Indonesia dengan Dubai, yang meski memiliki volume transaksi tinggi, tetapi memberlakukan proses know your customer (KYC) dan pembukaan rekening bank yang ketat bagi investor asing.
Selain regulasi yang ramah, COIN juga berkomitmen mengembangkan berbagai produk inovatif di sektor kripto, termasuk stablecoin, real world asset (RWA), dan tokenisasi. Stablecoin dinilai memiliki peran penting dalam transaksi lintas negara dan dapat menjadi aset digital kebanggaan Indonesia seperti halnya QRIS.
Berdasarkan data laporan terbaru dari Chainalysis Global Crypto Adoption Index, Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam adopsi aset kripto global, naik dari peringkat sebelumnya di posisi ketujuh. Artinya, Indonesia merupakan negara dengan adopsi aset kripto nomor satu di kawasan Asia Tenggara.
Peningkatan terhadap adopsi aset kripto secara global didukung oleh semakin meningkatnya jumlah konsumen aset kripto nasional yang sudah mencapai 14,16 juta orang per April 2025, atau terus bertambah dibandingkan Januari 2025 di angka 12 juta orang.
Semakin bertambahnya minat masyarakat terhadap aset kripto sebagai instrumen investasi yang sudah mendapatkan pengawasan dari Bursa CFX dan Lembaga Kustodian ICC mampu mendorong pertumbuhan total transaksi aset kripto Indonesia yang mencapai hingga Rp 650,61 triliun di akhir 2024.
Prospek Pendapatan
Terkait kinerja keuangan, Direktur Keuangan PT Indokripto Koin Semesta Tbk Abraham Nawawi memproyeksi, pendapatan perseroan bisa meningkat signifikan, terutama dari aktivitas yang dikelola oleh dua anak usahanya, yakni PT Central Finansial X (CFX) sebagai Bursa Aset Kripto dan PT Kustodian Koin Indonesia (ICC). Pada 2024, CFX sendiri menyumbang 60% dari total pendapatan perusahaan yang mencapai Rp 101 miliar.
“Pendapatan ini berasal dari biaya transaksi spot dan derivatif. Tahun ini kami akan mencatatkan pendapatan spot secara penuh, berbeda dengan tahun lalu yang baru dimulai di Agustus,” jelas Abraham.
Ia menambahkan, pendapatan dari transaksi aset kripto sangat berkorelasi dengan volatilitas harga di pasar global. Meski begitu, produk derivatif yang baru diluncurkan akhir 2024 terus mencatat lonjakan volume transaksi hampir 100% setiap bulan. Di mana, produk ini diklaim bisa menjadi alat lindung nilai (hedging) saat harga spot menurun.
“Saat ini volume transaksi derivatif sudah mencapai seperempat dari transaksi spot. Potensinya masih sangat besar,” ujarnya.
Derivatif kripto merupakan alternatif investasi yang menawarkan fleksibilitas, termasuk dalam strategi lindung nilai (hedging). Dalam melakukan hedging, produk derivatif kripto memberikan two ways of opportunity bagi nasabah untuk memperoleh keuntungan, baik ketika pasar sedang dalam tren menguat maupun saat pasar sedang berada dalam tren melemah. Dengan kata lain, nasabah memiliki kendali lebih yang lebih besar dalam mengelola portofolio.
Untuk diketahui, CFX sebagai bursa aset keuangan digital Indonesia, termasuk aset kripto, telah menghadirkan 96 kontrak derivatif kripto yang dapat diperdagangkan.
Selain itu, terdapat tujuh pialang berjangka yang terdaftar sebagai anggota bursa, yaitu PT PG Berjangka, PT Pasar Forex dan Komoditi Berjangka, PT Jalatama Artha Berjangka, PT Java Global Futures, PT Porto Komoditi Berjangka, PT Alpha Centauri Berjangka, dan PT Ajaib Futures Asia.
Baca Juga
IPO Indokripto (COIN) Sempat Jadi Sorotan Gara-gara Dirinya, Ini Respons Andrew Hidayat
Keamanan Aset
Direktur IT PT Indokripto Koin Semesta Tbk Putra Karunia, perwakilan dari ICC, menambahkan bahwa ICC berperan penting dalam pengawasan dan penyimpanan aset kripto milik konsumen. Dengan teknologi cold wallet berbasis Cobol, penyimpanan dilakukan secara offline untuk meminimalkan risiko peretasan.
“ICC menjadi penyimpan mayoritas aset kripto yang dimiliki pengguna, sementara pedagang tetap menjadi pihak utama yang mengelola akun dan dana nasabah,” jelasnya.
Ke depan, perseroan optimistis ruang pertumbuhan industri kripto nasional sangat terbuka, seiring penguatan infrastruktur, regulasi, serta kepercayaan investor domestik maupun global.

