Laba Bersih Merdeka Battery (MBMA) Turun 39%, Ini Penyebabnya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) melaporkan penurunan laba bersih sebesar 39% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi US$ 6 juta untuk kuartal I-2025. Pendapatan perusahaan juga turun 18% (yoy) menjadi US$ 366 juta.
Meski demikian, MBMA mencatatkan peningkatan EBITDA sebesar 17% menjadi US$ 31 juta, yang mencerminkan efisiensi biaya dan kekuatan operasional di tengah penurunan pendapatan. Hal ini menunjukkan fokus perusahaan pada penguatan performa operasional.
Baca Juga
Intip Target Harga Terbaru Saham Merdeka Copper (MDKA) dan Merdeka Battery (MBMA)
Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menyatakan bahwa peningkatan produksi dari tambang nikel PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) menjadi faktor utama pertumbuhan operasional. Tambang ini memproduksi 1,8 juta wmt limonit (naik 54% yoy) dan 1,3 juta wmt saprolit (naik 190% yoy).
"Meskipun curah hujan musiman menekan produksi dibandingkan kuartal sebelumnya, kinerja tetap lebih tinggi dari tahun lalu, mendukung pertumbuhan berkelanjutan," ungkap Teddy dalam keterangan resmi, Selasa (1/7/2025).
Pabrik rotary kiln electric furnace (RKEF) memproduksi 16.297 ton Nickel Pig Iron (NPI) pada kuartal I-2025, turun 22% (yoy), akibat peningkatan produksi di PT Bukit Smelter Indonesia (BSI), perbaikan tungku pada kuartal IV-2024, serta pemeliharaan di PT Zhao Hui Nickel (ZHN) yang terkena dampak banjir.
Baca Juga
Sri Mulyani Sebut Kondisi Ekonomi 2024 Menantang dan Tidak Mudah
Perbaikan infrastruktur di pabrik peleburan meningkatkan keselamatan dan efisiensi operasional, serta mendukung pengurangan biaya ke depan. Perbaikan tungku kedua BSI direncanakan dilakukan pada paruh kedua tahun ini.
MBMA juga mencatat peningkatan efisiensi biaya di Tambang SCM. Biaya tunai saprolit turun menjadi US$ 24,6 per wmt dari US$ 28,4 per wmt (yoy), sedangkan biaya tunai limonit naik 10% menjadi US$ 12,7 per wmt karena kenaikan biaya pengangkutan dan penjualan.
Selain itu, pembangunan jalan angkut baru ke Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terus berjalan, bertujuan memangkas biaya logistik dan mendukung konektivitas infrastruktur HPAL MBMA.
"Kuartal I-2025 mencerminkan kekuatan operasional MBMA yang ditopang efisiensi biaya, pertumbuhan produksi SCM, dan strategi hilirisasi berkelanjutan meski menghadapi tantangan musiman," tutup Teddy.

