Target Pra-Penjualan Ciputra (CTRA) 2025 Stagnan di Rp 11 Triliun, Manajemen Ungkap Tantangan Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT Ciputra Development Tbk (CTRA) kembali membidik total pra-penjualan (presales) di kisaran Rp 11 triliun pada 2025. Nilai ini setara dengan perolehan 2024 sebagai rekor tertinggi dalam sejarah perusahaan dan tertinggi di industri properti Indonesia tahun itu.
“Pada 2025 kami menargetkan pre-sales secara stagnan di Rp 11 triliun juga karena kami melihat ada dua tantangan utama tahun ini,” jelas Head of Investor Relations Ciputra Development Aditya Ciputra Sastrawinata dalam paparan publik di Hotel Raffles Jakarta, Selasa (17/6/2025).
Tantangan pertama adalah kenaikan suku bunga kredit perumahan rakyat (KPR) yang juga sulit diturunkan. Sementara, porsi pembelian rumah di Ciputra yang menggunakan KPR meningkat, menyentuh level tertinggi dalam sejarah perusahaan yakni 72% dari kisaran 30% dalam 10 tahun sebelumnya.
“Kami melihat situasi di perbankan hari ini, loan to deposit ratio sudah sangat tinggi, secara agregat lebih dari 90% sehingga beberapa bank tidak memiliki ruang lagi untuk menurunkan suku bunga KPR,” sambung Adit.
Baca Juga
Ciputra (CTRA) Tetapkan Dividen Rp 444,85 Miliar, Catat Jadwalnya
Menurut pengamatan manajemen Ciputra, hingga Juni 2025, sudah terdapat beberapa bank besar yang meningkatkan suku bunga KPR walau secara nominal tidak besar. Bank dimaksud, telah menaikkan suku bunga KPR sekitar 25 basis point (bps) sampai 40 bps pada Februari silam. Kemudian menaikkannya lagi sebesar 37 bps pada bulan ini.
“Kalau ditambah, ini lama-kelamaan memiliki dampak yang cukup terasa bagi konsumen. Sehingga jika 72% dari pembeli kami menggunakan KPR dan suku bunganya terus naik, dampak terhadap pre-sales kami juga akan terasa. Itu adalah alasan pertama kenapa kita menargetkan suatu target yang lebih konservatif dibanding tahun-tahun sebelumnya,” tegas dia.
Alasan kedua adalah momentum peluncuran proyek baru milik perusahaan. Saat ini manajemen masih terus mencari proyek baru, yang sejauh ini diperkirakan belum ada yang bisa selesai atau ditandatangan pembeli dan berkontribusi pada pre-sales 2025.
“Jadi di belakang layar sebenarnya ada cukup banyak, sekitar lima negosiasi yang sedang berjalan untuk proyek-proyek JO (joint operation). Tetapi dari segi timing, lima-limanya kemungkinan besar tidak akan selesai tahun ini. Sehingga kami hanya bisa rely kepada proyek-proyek negosiasi dari segi launching baru di proyek yang sudah ada,” pungkasnya.

