Bitcoin Nyaris Tembus Level US$ 107.000
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) kembali menguat, bahkan hampir menyentuh level US$ 107.000 atau lebih tepatnya US$ 106.847 pada Senin (19/5/2025), pukul 7.10 WIB, jika mengutip data CoinMarketCap. Namun harga BTC setelah beberapa jam sedikit tertekan sehingga menurun ke US$ 104.000-an.
Meningkatnya harga Bitcoin didorong oleh permintaan pasar spot yang sangat kuat dan arus masuk dana institusional yang signifikan. Menurut laporan terbaru dari firma analitik on-chain Glassnode, dilansir Senin (19/5/2025), bursa kripto Coinbase mencatat tekanan jual bersih sekitar US$ 45 juta per hari, menandakan kembalinya minat beli dari investor besar.
Reli ini terjadi setelah aksi jual besar-besaran pada awal April yang sempat mendorong harga Bitcoin di bawah US$ 75.000. Namun, fase akumulasi yang kuat, meredanya tekanan jual, dan arus masuk dana dari dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) menjadi sinyal bahwa tren bullish masih berlanjut.
Berbeda dari lonjakan sebelumnya yang seringkali didorong oleh spekulasi berbasis leverage, kenaikan kali ini lebih didorong oleh permintaan riil dari pasar spot. Glassnode mencatat, transaksi signifikan terjadi di kisaran US$ 93.000 hingga US$ 95.000, yang kini menjadi level support penting. Kisaran ini juga sesuai dengan basis biaya para pedagang yang memasuki pasar dalam 155 hari terakhir.
Baca Juga
Bitcoin Berpotensi Cetak Rekor Baru, Realized Cap Tembus US$ 900 Miliar
Sementara itu, pasar derivatif justru menunjukkan penurunan minat. Bunga terbuka ada kontrak berjangka abadi turun 10%, dari 370.000 Bitcoin menjadi 336.000 Bitcoin. Hal ini mengindikasikan potensi short squeeze, seiring tersingkirnya posisi jual, namun tingkat pendanaan yang tetap netral mencerminkan minimnya leverage panjang yang berlebihan, sebuah sinyal positif menurut para analis.
ETF Bitcoin tetap menjadi katalis utama. Arus masuk dana mencapai puncaknya pada 25 April dengan nilai US$ 389 juta, sebelum stabil di kisaran US$ 58 juta per hari. Coinbase, yang menjadi pilihan utama bagi investor institusional asal Amerika Serikat (AS), terus mencatat pembelian rutin.
Di lain sisi, tekanan jual dari Binance, mitra global CoInbase, turun drastis dari US$ 71 juta per hari pada Maret menjadi hanya US$ 9 juta saat ini. Hal tersebut menunjukkan bahwa investor global semakin aktif membeli saat harga melemah, memperkuat sentimen bullish di pasar.
Baca Juga
JPMorgan Prediksi Bitcoin Akan Melebihi Emas di Akhir Tahun Ini
Analis CryptoQuant Avocado Onchain, dalam laporannya pada 15 Mei lalu mencatat, sejumlah pemegang jangka panjang mulai merealisasikan keuntungan. Hal ini terlihat dari kenaikan metrik Binary Coin Days Destroyed (CDD) menjadi 0,6, yang menunjukkan adanya pergerakan koin yang sebelumnya tidak aktif. Namun, angka itu masih berada di bawah zona overheat pada level 0,8 yang biasanya terlihat pada puncak bull market.
Glassnode juga mencatat lonjakan keuntungan di kalangan pemegang jangka pendek (short term holders/STH) yang telah mencapai hampir +3 deviasi standar dari rata-rata 90 hari. Meski begitu, analis menyatakan aksi ambil untung ini belum cukup untuk melemahkan permintaan secara keseluruhan, karena pada reli sebelumnya, deviasi hingga +5 diperlukan untuk memicu koreksi harga signifikan.
Sementara itu, analis Tokocrypto Fyqieh Fachrur menuturkan, lonjakan tersebut terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data dari SoSoValue, ETF tersebut mencatatkan arus masuk bersih sebesar US$ 2,8 miliar hanya dalam paruh pertama bulan Mei, dengan akumulasi arus masuk mencapai US$ 41,77 miliar hingga 16 Mei.
“Total aset bersih yang dikelola ETF ini pun telah melampaui angka US$ 122 miliar,” ujarnya, Senin (19/5/2025).
Fyqieh mengatakan, lonjakan terbesar terjadi pada 2 Mei, ketika arus masuk harian mencapai US$ 674,9 juta. “Berbeda dari reli sebelumnya yang didominasi oleh spekulasi ritel, reli saat ini lebih banyak didorong oleh investor institusional melalui instrumen ETF,” ucapnya.
Ia pun meyakini ada ruang bagi penguatan aset kripto ke depannya, terutama karena dimasukkannya Coinbase ke dalam indeks S&P 500 pada 19 Mei, sebagaimana dicatat oleh QCP Capital dalam laporannya.
Disebutkan, lanjutnya, bahwa penyertaan dalam indeks kerap dianggap sebagai katalis jangka pendek, sehingga penyesuaian alokasi biasanya dilakukan oleh manajer dana pasif.
Selain faktor ETF, Fyqieh menyebut, latar belakang makro ekonomi global juga memainkan peran penting. The Fed AS mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,25%–4,50% dan belum memberikan sinyal pemangkasan dalam waktu dekat, meski tekanan dari Presiden AS Donald Trump terhadap The Fed untuk memangkas suku bunga terus berlanjut.
“Meskipun ada kesepakatan pengurangan tarif selama 90 hari antara AS dan China, bea masuk tetap tinggi di beberapa sektor strategis seperti kendaraan listrik dan semikonduktor. Hal ini memperkuat narasi Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap inflasi, terutama di tengah ketidakpastian prospek moneter global,” jelasnya.
Crypto Fear & Greed Index saat ini berada pada level 74 (Greed), menunjukkan bahwa investor semakin percaya diri memasuki pasar. Kondisi ini, ditambah dengan arus masuk ETF, ketegangan tarif yang mereda, dan data ekonomi AS yang cukup positif, membuka kemungkinan Bitcoin menembus level tertingginya dan bahkan menciptakan rekor baru di atas US$ 109.000.
“Dengan berbagai faktor pendukung yang terus berkembang, pasar kripto, khususnya Bitcoin, kembali menunjukkan daya tariknya sebagai aset berisiko dengan potensi lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global,” kata Fyqieh.
