Ternyata Ini Alasan Transaksi Kripto Melandai di Februari 2025
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah pamor aset kripto yang terus meningkat, terjadi perlambatan dari sisi transaksi kripto per Februari 2025. Di mana, jumlah transaksi kripto di Indonesia melambat 2,7% secara year on year (yoy) menjadi Rp 32,78 triliun pada Februari 2025, sementara secara bulanan terkontraksi 25,62% dibandingkan Januari 2025 sebesar Rp 44,07 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi, Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto (IAKD) OJK Hasan Fawzi mengungkapkan, kondisi ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh sentimen kehati-hatian pelaku pasar menyusul perkembangan kebijakan global dan volatilitas ekonomi.
”Kita bisa melihat bagaimana indeks fear and greed-nya perdagangan kripto itu bergerak ke arah fear. Artinya, memang investor menahan diri untuk secara aktif melakukan transaksi,” ujarnya, saat ditemui media usai Konferensi Pers Launching OJK Infinity 2.0, di Jakarta, Kamis (24/4/2025).
Baca Juga
Jumlah Investor Tembus 22,91 Juta, Transaksi Kripto Capai Rp 650,61 Triliun di 2024
Namun, Hasan mengatakan kondisi tersebut bersifat sementara. Ia menilai ada potensi pembalikan tren transaksi kripto dalam waktu dekat, seiring dengan pergerakan harga aset kripto utama seperti Bitcoin yang berada punya prospek positif.
“Kalau kita perhatikan di bulan ini, yang tentu nanti akan kami sampaikan, kemungkinan akan ada pembalikan sejalan dengan pembalikan dari tingkat harga acuan Bitcoin misalnya sebagai aset kripto terbesar,” kata Hasan.
Baca Juga
Transaksi Kripto Naik 104% per Januari di Bawah OJK, Industri Makin Optimis
Sebab, lanjut Hasan, aset kripto utama seperti Bitcoin saat ini bahkan mulai dipandang sebagai alternatif investasi yang relatif lebih aman dibandingkan instrumen lain yang terdampak gejolak ekonomi global.
“Sebagian juga menjadikan aset kripto khususnya yang sangat liquid ini sebagai tujuan investasi yang dianggap lebih aman dibanding instrumen lain yang kemarin katakanlah terdampak langsung dan mengalami gejolak pergerakan harga yang cukup signifikan,” ucap Hasan.
Meskipun volume transaksi melandai, Hasan menegaskan jika minat investor terhadap aset kripto dalam negeri tetap meningkat. Hal ini tercermin dari peningkatan jumlah investor sebesar 3,02% secara bulanan, dari 12,92 juta investor pada Januari 2025 menjadi 13,31 juta investor pada Februari 2025.
“Kita masih melihat bagaimana minat dan animo para konsumen baru di aset kripto nasional yang tetap meminati untuk mulai bergabung dan menjadi konsumen di kegiatan aset kripto, khususnya untuk melakukan investasi dan transaksi aset-aset kripto dimaksud,” katanya.

