Sedang "Bersih-Bersih", Manajemen Bank Danamon (BDMN) Tak Risaukan CASA Turun
JAKARTA, investortrust.id – Manajemen PT Bank Danamon Tbk (BDMN) tak merisaukan penurunan rasio current account saving account (CASA) yang kini di bawah 50%. Bank Danamon justru “sengaja” menurunkan CASA sebagai upaya “bersih-bersih” agar dana murah perseroan benar-benar berkualitas.
“Kami tidak risau CASA kami sekarang di bawah 50% karena kami dilarang oleh pemegang saham untuk main-main dengan angka rasio CASA,” ujar Wakil Direktur Utama Bank Danamon, Honggo Widjojo Kangmasto menjawab investortrust.id pada acara “Halal-bihalal Direksi Bank Danamon dengan Pemimpin Redaksi Media Massa” di Wisma Habibie & Ainun, Patra Kuningan, Jakarta, Senin (14/4/2025) malam.
Acara yang dihadiri jajaran direksi Bank Danamon itu ditutup dengan tour Wisma Habibie & Ainun yang dipandu putra BJ Habibie yang juga Ketua Dewan Pembina Habibie Center, Ilham Habibie.
Baca Juga
RUPST Bank Danamon (BDMN) Setujui Pembagian Dividen 35% dari Laba 2024 dan Ganti 2 Direksi
Bank Danamon pada 2024 menorehkan laba bersih Rp 3,18 triliun dibanding Rp 3,55 triliun tahun sebelumnya atau turun 9,1% secara tahunan (year on year/yoy). Penurunan kinerja bank yang 92,47% sahamnya dimiliki MUFG Bank Ltd (Jepang) itu terjadi seiring melonjaknya beban bunga sebesar 45,45% (yoy) menjadi Rp 6,89 triliun.
Dalam waktu bersamaan, rasio CASA Bank Danamon turun 106 bps dari 52,3% menjadi 41,7% terhadap total dana pihak ketiga (DPK). Perseroan membukukan penurunan CASA sebesar 13% (yoy) menjadi Rp 63,84 triliun. Sebaliknya, deposito berjangka melesat 33% (yoy) menjadi Rp 89,38 triliun.
Tahun lalu, Bank Danamon mencatatkan pertumbuhan kredit 8% (yoy) menjadi Rp 189,4 triliun dibanding tahun sebelumnya 19% (yoy). Sedangkan DPK tumbuh 9% (yoy) menjadi Rp 153,2 triliun.
Menurut Honggo Widjojo, pemegang saham (MUFG Bank Ltd) secara tegas melarang manajemen Bank Danamon membuat penawaran-penawaran yang tidak selaras dengan filosofi perseroan sebagai bank yang mengusung prinsip kehati-hatian perbankan (prudential banking) dan bisnis berkesinambungan (sustainable).
“Kami tidak boleh lagi menarik DPK dengan menawarkan ‘tabungan serasa deposito’. Itu kami bersihkan karena kami ingin jaga sustainability-nya. Kami bisa saja punya CASA lebih besar, tapi mau sampai kapan? Kami ingin CASA yang sustainable,” tutur dia.
Selain bersih-bersih CASA, menurut Honggo, Bank Danamon terus berupaya mengelola kualitas aset dengan menjaga kredit bermasalah (non-performing loans/NPL) di level yang aman, sambil mendorong pertumbuhan kredit secara selektif dan hati-hati.
Bank Danamon saat ini memiliki rasio kredit berisiko (loan at risk/LaR) sebesar 10,6%, dengan NPL (bruto) yang terjaga di level 1,9%. “Kami berhasil menjaga NPL di level rendah dengan rasio cakupan NPL hingga 287,2%,” tegas Honggo.
Dia mengakui, kondisi perekonomian sedang tidak baik-baik saja. Sejumlah sektor, terutama otomotif yang menjadi backbone pembiayaan grup perseroan mengalami tekanan akibat menurunnya permintaan sejalan dengan pelemahan daya beli masyarakat. "Tapi kami tetap optimistis perekonomian segera membaik," tandas dia.
Tidak Tumbuh Sendiri
Sementara itu, Direktur Utama Bank Danamon, Daisuke Ejima menjelaskan, Bank Danamon ingin hadir di Indonesia sebagai bank yang tidak tumbuh sendiri sebagai entitas bank semata, tapi juga bersama perusahaan-perusahaan grup sebagai ekosistemnya.
Karena itu, kata Daisuke Ejima, bisnis Bank Danamon akan dikelola secara hati-hati agar tumbuh secara berkesinambungan bersama anggota grup yang terdiri atas MUFG Bank Cabang Jakarta, PT Adira Finance Tbk, PT Mandala Multifinance Tbk, PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, dan PT Home Kredit Indonesia.
Baca Juga
Bank Danamon (BDMN) Kantongi Peringkat idAAA dengan Prospek Stabil
Daisuke Ejima juga menegaskan komitmen MUFG Bank Ltd sebagai induk usaha, untuk menjadikan Bank Danamon sebagai bank yang turut berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. “Kami hadir di Indonesia untuk turut membantu perekonomian nasional,” tandas dia.
Daisuke optimistis dengan fundamental yang kokoh dan konsisten mengusung prinsip kehati-hatian, Bank Danamon akan tumbuh secara berkelanjutan dan mampu meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Bank Danamon melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 6 Desember 1989 dengan sandi saham BDMN. Pada perdagangan sesi I, Selasa (15/4/2025), saham BDMN ditutup stagnan di level Rp 2.330 dengan market cap Rp 22,7 triliun dan price to earning ratio (PER) 7,17 kali. BDMN memiliki return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing 1,31% dan 6,13% dengan price to book value (PBV) 0,44 kali.

