Tok! Hery Gunardi Jadi Bos Baru BRI
JAKARTA, investortrust.id - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI menunjuk Hery Gunardi sebagai direktur utama BRI yang baru, menggantikan Sunarso yang telah habis masa jabatannya. Sebagai catatan, Sunarso telah menjadi direktur utama bank pelat merah itu sejak September 2019.
Sebelumnya, ada tiga kandidat kuat yang dikabarkan akan menjadi bos di bank pelat merah dengan laba terbesar itu. Yaitu Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Alexandra Askandar, dan Wakil Direktur Utama BRI Catur Budi Harto.
Tentang jabatan barunya, Hery Gunardi menegaskan dirinya siap mengemban amanah baru dengan sebaik-baiknya. Dia menyatakan, memimpin BSI maupun BRI memiliki kesamaan substansi, yakni sama-sama membangun perekonomian bangsa dari segi industri perbankan. Namun dengan sektor berbeda, di mana BSI bergerak di sektor perbankan syariah sedangkan BRI lebih fokus pada segmen UMKM.
“Saya bersyukur bisa menjadi bagian dalam pembangunan ekonomi nasional khususnya di industri perbankan melalui berbagai pengalaman saya selama ini. Amanah ini akan saya emban dan jalankan dengan sebaik-baiknya. Semoga ke depan BRI terus tumbuh dan memberikan nilai ekonomi maupun sosial yang seimbang sebagai BUMN melalui kebermanfaatan dan kontribusi yang berkelanjutan bagi perekonomian Indonesia,” ujar Hery yang memiliki prinsip growth mindset itu.
Hery memang memiliki rekam jejak yang panjang dengan reputasi mumpuni di industri perbankan Tanah Air. Pria kelahiran Bengkulu ini memulai karir sebagai bankir di Bank Bapindo pada 1991. Pada kurun waktu 1998-1999, Hery menjadi anggota Tim Merger yang membidani lahirnya Bank Mandiri. Kala itu, saat krisis ekonomi melanda, pemerintah menggabungkan empat bank yaitu Bank Bapindo, Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bank Exim menjadi bank baru, yaitu Bank Mandiri.
Hery juga sosok yang menangani pendirian PT AXA Mandiri Finansial Services (AMFS), perusahaan asuransi joint venture antara Bank Mandiri dan AXA Group Perancis (2002-2003). Lalu pada 2006, Hery dipercaya untuk menangani segmen wealth management Bank Mandiri dan karirnya terus menanjak sebagai Direktur hingga menjadi Plt Direktur Utama Bank Mandiri pada September-Oktober 2020.
Sejumlah posisi top management mulai dari Direktur Mikro dan Ritel, Direktur Konsumer, Direktur Distributions, Direktur Small Business & Network, hingga Direktur Consumer & Retail Transaction pernah diemban Hery saat di Bank Mandiri. Sejumlah pencapaian ditorehkan Hery, misalnya ketika dirinya menjadi Direktur Mikro dan Retail Banking pada April 2013-Januari 2015, Hery membawa Bank Mandiri mampu menyalurkan total kredit mikro mencapai Rp35 triliun, berhasil menjalankan branch business process re-engineering dan mentransformasi unit bisnis mikro & retail banking Bank Mandiri. Atas inovasi yang dikawal olehnya pada 2014 Bank Mandiri dinobatkan sebagai Best Domestik Retail Bank of The Year Indonesia berdasarkan The Asian Banking & Finance.
Ketika mengemban jabatan sebagai Direktur Bisnis Kecil & Jaringan Bank Mandiri (Maret 2018 – Mei 2019), Hery memacu penyaluran kredit retail dengan total portofolio Rp214 triliun, termasuk kredit untuk segmen mikro, serta segmen kecil & menengah (SME).
Hery juga membawa Bank Mandiri sukses merengkuh berbagai penghargaan bergengsi, termasuk penghargaan Best Service Excellence dari Marketing Research Indonesia selama 10 tahun berturut-turut sejak 2007 – 2017. Juga membawa Bank Mandiri masuk dalam top 11 dari 500 perusahaan terbaik dunia dari sisi lingkungan kerja atau World Best Employer pada 2018.
Kemudian melalui segudang pengalaman tersebut, Hery dipercaya membidani lahirnya BSI dengan proses merger 3 bank syariah anak usaha bank BUMN yaitu PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah.
Hery pun ditunjuk sebagai Direktur Utama pertama di bank syariah terbesar di Indonesia tersebut. Penetapan itu dilakukan oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada RUPSLB tanggal 15 Desember 2020 dan efektif menjabat pada 01 Februari 2021.
“Pengalaman dalam perjalanan karir saya menjadi modal penting untuk melangkah ke depan bersama BRI, dengan melanjutkan pencapaian oleh pemimpin-pemimpin BRI sebelumnya termasuk Pak Sunarso dalam melakukan transformasi culture dan digital. Saya sebagai pemimpin memiliki kewajiban mendorong seluruh Insan BRILian menjadi talenta terbaik di bidangnya dengan kepercayaan dan daya saing tinggi agar memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Lambungkan Kinerja BSI
Adapun di bawah kepemimpinan Hery, BSI mencatatkan kinerja yang gemilang. Total aset BSI hingga akhir 2024 senilai Rp 408,61 triliun. Angka itu tumbuh 15,55% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp 353,62 triliun pada 2023.
Pertumbuhan aset tersebut tak terlepas dari penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 11,46% YoY menjadi Rp 327 triliun pada periode yang sama. Juga pembiayaan yang naik 15,88% YoY hingga mencapai Rp 278 triliun.
Dari segi laba bersih BSI mencapai Rp 7,01 triliun pada 2024, tumbuh 22,83% secara tahunan dari Rp 5,7 triliun pada 2023. Kenaikan kinerja BSI ini lebih tinggi dari laju pertumbuhan industri perbankan nasional, yang dalam kurun beberapa tahun terakhir tak terlepas dari kondisi ekonomi makro maupun mikro yang cukup menantang.
Dari sisi aset, BSI menempati peringkat keenam terbesar di industri perbankan nasional dengan laju pertumbuhan sebesar 15,55% secara tahunan. Sementara untuk DPK menempati urutan kelima terbesar di Tanah Air. BSI juga mampu menempati peringkat 9 bank syariah global dari segi kapitalisasi pasar. Di mana hal tersebut ditargetkan dicapai tahun ini, namun realisasinya lebih cepat yaitu pada 2024.
“InsyaAllah dengan niat dan tekad yang lurus untuk terus memberikan kontribusi membangun ekonomi Indonesia, saya akan mengemban amanah di BRI dengan sebaik mungkin. Saya pribadi menganut prinsip growth mindset. Kita harus terus tumbuh. Karena dunia terus bergerak, kita harus agile dan inovatif membangun perusahan. Saat ini kita dihadapkan sejumlah tantangan di tengah situasi ketidakpastiaan ekonomi. Karena itu kita harus bekerja lebih baik, Beyond the Limit,” tegas Hery.
RUPST BRI hari ini memiliki 10 mata acara. Berikut rinciannya:
Mata acara pertama, persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan konsolidasian perseroan, persetujuan laporan tugas pengawasan Dewan Komisaris serta pengesahan laporan keuangan program Pendanaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil Tahun Buku 2024.
Mata acara kedua, Penetapan Penggunaan Laba Bersih Perseroan untuk Tahun Buku 2024. Memang yang paling ditunggu-tunggu para pemegang saham tentunya pembagian dividen. Adapun laba tahun berjalan konsolidasian perseroan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2024 sebesar Rp 60,15 triliun.
Laba bersih perseroan Tahun Buku 2024 akan digunakan untuk dividen dan laba ditahan dengan penjelasan sebagai berikut:
a. Perseroan bermaksud membagikan dividen dengan payout ratio sekurang-kurangnya sebesar 85% (termasuk dividen interim yang telah dibayarkan) dengan mempertimbangkan kinerja perseroan yang baik dan kondisi permodalan yang kuat.
b. Sebagai informasi, pada tanggal 15 Januari 2025, perseroan telah membagikan dividen interim sebesar Rp 135 per saham atau sebesar Rp 20,33 triliun dan akan diperhitungkan sebagai bagian dari dividen Tahun Buku 2024.
Baca Juga
Gelar RUPST Siang Ini, Berikut Profil 3 Nama Kuat yang Dikabarkan Jadi Bos Baru BRI (BBRI)
Mata acara ketiga, penetapan gaji/honorarium berikut fasilitas dan tunjangan tahun buku 2025, serta tantiem/insentif kinerja/insentif khusus atas kinerja tahun buku 2024 dan/atau Insentif jangka panjang periode tahun 2025-2027, untuk Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan.
Mata acara keempat, penunjukan Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik untuk mengaudit laporan keuangan konsolidasian perseroan tahun buku 2025 serta laporan keuangan program Pendanaan Usaha Mikro dan Usaha Kecil untuk tahun buku 2025.
Mata acara kelima, laporan realisasi penggunaan dana Obligasi Berwawasan Lingkungan Berkelanjutan I Tahap III Bank BRI Tahun 2024. Realisasinya mencapai Rp 2.495.193.000.000.
Mata acara keenam, persetujuan pengkinian Rencana Aksi Pemulihan (Recovery Plan) BRI. Sebelumnya perseroan telah membuat Recovery Plan tahun 2017 meliputi asesmen materialitas, penentuan opsi pemulihan dansimulasi stress test dengan berbagai skenario.
Mata acara ketujuh, penetapan plafon (limit) hapus tagih atas piutang pokok macet yang telah dihapusbuku. Hal ini sebagai implementasi Peraturan Pemerintah (PP) No 47 Tahun 2024.
Mata acara kedelapan, persetujuan atas rencana pembelian kembali saham (buyback) dan pengalihan saham hasil buyback yang disimpan sebagai saham treasuri (treasury stock) perseroan. Jumlah nilai seluruh buyback diperkirakan sebesar-sebesarnya Rp 3 triliun dan akan diselesaikan paling lama 12 bulan sejak tanggal Rapat.
Mata acara kesembilan, perubahan Anggaran Dasar perseroan, dalam rangka penyesuaian dengan peraturan perundang – undangan antara lain Peraturan OJK No 17 Tahun 2023.
Mata acara kesepuluh, perubahan susunan pengurus perseroan. Direksi dan Dewan Komisaris diangkat dan diberhentikan oleh RUPS yang dihadiri oleh pemegang saham Seri A Dwiwarna. Direksi dan Dewan Komisaris diangkat oleh RUPS dari calon yang diajukan oleh Pemegang Saham Seri A Dwiwarna.

